Senin, 16 Oktober 2017

Dr. Dirgantara Wicaksono, M.Pd "Makalah Pengembangan Pembelajaran PKN kelompok 1"


MAKALAH PENGEMBANGAN PEMBELAJARAN PKN SD
Disusun untuk melengkapi tugas mata kuliah “Pengembangan Pembelajaran PKN SD”

Disusun Oleh :
Anggie Octaviany          (2015820040)
Rahma Puzi A.L            (2015820006)
Nirwan Rianda            (2015820030)
Windia Alfiani               (2015820009)
Rega triana               (2015820027)
Syara Afifah Muthia    (2015820019)


PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR
FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH JAKARTA

2017    


        KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum Wr. Wb.
Puji syukur senantiasa selalu kami panjatkan kepada Allah SWT yang telah memberikan limpahan rahmat, taufik, dan  hidayah-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan  penyusunan makalah  ini. Shalawat serta salam tak lupa kami curahkan kepada Nabi Muhammad SAW yang telah menunjukkan jalan kebaikan dan kebenaran di dunia dan akhirat kepada umat manusia.
Makalah ini disusun guna memenuhi tugas  Mata Kuliah Pengembangan Pembelajaran PKN SD dan  juga untuk khalayak ramai sebagai bahan penambahan ilmu pengetahuan serta informasi yang semoga bermanfaat.  Makalah ini disusun dengan segala kemampuan kami dan semaksimal mungkin. Namun,  kami menyadari bahwa dalam penyusunan makalah ini tentu tidaklah sempurna dan masih banyak kesalahan serta kekurangan. Maka dari itu kami mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari semua pembaca dan terutama Dosen Mata Kuliah Pengembangan Pembelajaran PKN SD.
Wassalamu’alaikum Wr. Wb.
                                                                                                                    Jakarta, 23 September 2017

                                                                                                                                            Penyusun



BAB I
PENDAHULUAN 
1.1  Latar Belakang
Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. Artinya bahwa proses pendidikan itu dilakukan secara sengaja dan penuh dengan kesadaran dan ditambah lagi dengan terencana melalui proses belajar mengajar (Tim penyusun, 2003).
Hal ini menunjukkan bahwa hakekat pendidikan adalah sebuah pengembangan kecerdasan yang melahirkan sebuah karakter. Pendidikan dapat dipahami dan didekati dari berbagai dimensi. Pendidikan itu merupakan proses yang tidak akan pernah selesai (never ending process). Manusia itu adalah hasil dari proses belajar mengajar dan belajar itu merupakan salah satu proses didalam kepribadian siswa (Hakim, 2000:1)
Proses belajar tersebut sudah dimulai sejak manusia ada di dunia ini. Ia lahir tanpa memiliki pengetahuan, sikap, dan kecakapan apa pun, kemudian tumbuh dan berkembang menjadi mengetahui, mengenal, dan menguasai banyak hal. Itu terjadi karena proses belajar dengan menggunakan potensi dan kapasitas diri yang telah dianugerahkan Tuhan kepadanya. Dan didalam proses belajar mengajar itu perlu diperhatikan mengenai pendekatan-pendekatan dalam proses belajar mengajar.
Dalam proses pembelajaran terdapat komponen siswa sebagai obyek yang sedang belajar dan guru sebagai pengajar untuk memberikan materi pelajaran guna terjadi perubahan pada diri siswa. Mengajar merupakan suatu kegiatan yang dilakukan seseorang yang memiliki pengetahuan atau keterampilan yang lebih dari pada yang diajar, untuk memberikan suatu pengertian, kecakapan atau ketangkasan. Seperti dikemukakan oleh Slameto (2003: 97) bahwa ”kegiatan mengajar meliputi penyampaian pengetahuan, menularkan sikap, kecakapan atau keterampilan yang diatur sesuai dengan lingkungan dan yang menghubungkannya dengan subyek yang sedang diajar”.
Dengan pendekatan sistem, arah dan tujuan pembelajaran dapat direncanakan dengan jelas. Dengan tujuan yang jelas, maka kita dapat menetapkan arah dan sasaran dengan pasti. Perumusan tujuan merupakan salah satu karakteristik pendekatan sistem. Penentuan komponen-komponen pembelajaran pada dasarnya diarahkan untuk mencapai tujuan. Melalui pendekatan sistem, setiap guru dapat lebih memahami tujuan dan arah pembelajaran untuk menentukan langkah-langkah pembelajaran dan pengembangan komponen yang lain, dan dapat dijadikan kriteria efektivitas proses pembelajaran.
1.2  Rumusan Masalah
a           1. Apa yang dimaksud dengan Pendekatan Inquiry – Discovery dan Implementasi dalam  
                 pembelajaran PKN SD
b         2  Apa yang dimaksud dengan Pendekatan Multikultural dan Implementasi dalam pembelajaran               PKN SD

1.3  Tujuan
a          1. Mengetahui tentang Pendekatan Inquiry – Discovery dan Implementasi dalam pembelajaran                  PKN SD           
b          2. Mengetahui tentang Pendekatan Multikultural dan Implementasi dalam pembelajaran PKN SD

                                                                                         BAB II
                                                                                                                                                                                                                                                     PEMBAHASAN 


2.1 PEMBELAJARAN INQUIRY DAN DISCOVERY

            A.   Pendektan Metode Penemuan (Discovery-Inquiry) dalam Pembelajaran PKN SD
Metode penemuan adalah cara penyajian pelajaran yang banyak melibatkan siswa dalam proses-proses mental dalam rangka penemuannya. Menurut Sund (Sudirman N, 1992 ), discovery adalah proses mental, dan dalam proses itu individu mengasimilasi konsep dan prinsip-prinsip. Istilah asing yang sering digunakan untuk metode ini ialah discovery yang berarti penemuan, atau inquiry yang berarti mencari. Mengenai penggunaan istilah discovery dan inquiry para ahli terbagi ke dalam dua pendapat, yaitu :
·         Istilah-istilah discovery dan inquiry dapat diartikan dengan maksud yang sama dan digunakan saling bergantian atau keduanya sekaligus.
·         Istilah discovery, sekalipun secara umum menunjuk kepada pengertian yang sama dengan inquiry, pada hakikatnya mengandung perbedaan dengan inquiry.
Moh. Amin (Sudirman N, 1992 ) menjelaskan bahwa pengajaran discovery harus meliputi pengalaman-pengalaman belajar untuk menjamin siswa dapat mengembangkan proses-proses discoveryInquiry dibentuk dan meliputi discovery dan lebih banyak lagi. Dengan kata lain, inquiry adalah suatu perluasan proses-proses discovery yang digunakan dalam cara lebih dewasa. Sebagai tambahan pada proses-proses discoveryinquiry mengandung proses-proses mental yang lebih tinggi tingkatannya, misalnya merumuskan problema sendiri, merancang eksperimen, melakukan eksperimen, mengumpulkan dan menganalisis data, menarik kesimpulan, mempunyai sikap-sikap obyektif, jujur, hasrat ingin tahu, terbuka, dan sebagainya.

Mengenai kelebihan dan kekurangan metode penemuan/discovery-inquiry diuraikan oleh  Sudirman N, dkk (1992) sebagai berikut :

Kelebihan metode penemuan/discovery-inquiry :
1.      Strategi pengajaran menjadi berubah dari yang bersifat penyajian informasi oleh guru kepada siswa sebagai penerima informasi yang baik tetapi proses mentalnya berkadar rendah, menjadi pengajaran yang menekankan kepada proses pengolahan informasi di mana siswa yang aktif mencari dan mengolah sendiri informasi yang kadar proses mentalnya lebih tinggi atau lebih banyak.
2.      Siswa akan mengerti konsep-konsep dasar atau ide lebih baik.
3.      Membantu siswa dalam menggunakan ingatan dan dalam rangka transfer kepada siutuasi-situasi proses belajar yang baru.
4.      Mendorong siswa untuk berfikur dan bekerja atas inisiatifnya sendiri.
5.      Memungkinkan siswa belajar dengan memanfaatkan berbagai jenis sumber belajar yang tida hanya menjadikan guru sebagai satu-satunya sumber belajar.
6.      Metode ini dapat memperkaya dan memperdalam materi yang dipelajari sehingga retensinya 9tahan lama dalam ingatan) menjadi lebih baik.

Kekurangan metode penemuan/discovery-inquiry :
1.      Memerlukan perubahan kebiasaan cara belajar siswa yang menerima informasi dari guru apa adanya, ke arah membiasakan belajar mandiri dan berkelompok dengan mencari dan mengolah informasi sendiri. Mengubah kebiasaan bukanlah sesuatu yang mudah, apalagi kebiasaan yang telah bertahun-tahun dilakukan.
2.      Guru dituntut mengubah kebiasaan mengajar yang umumnya sebagai pemberi informasi menjadi fasilitator, motivator, dan pembimbing siswa dalam belajar. Inipun bukan pekerjaan yang mudah karena umumnya guru merasa belum puas kalau tidak banyak menyajikan informasi (ceramah).
3.      Metode ini memberikan kebebasan pada siswa dalam belajar, tetapi tidak berarti menjamin bahwa siswa belajar dengan tekun, penuh aktivitas, dan terarah.
4.      Cara belajar siswa dalam metode ini menuntut bimbingan guru yang lebih baik. Dalam kondisi siswa banyak (kelas besar) dan guru terbatas, agaknya metode ini sulit terlaksana dengan baik.

Jenis-Jenis Metode Penemuan (Discovery-Inquiry)
Moh. Amin (Sudirman N, 1992) menguraikan tentang tujuh jenis inquiry-discovery yang dapat diikuti sebagai berikut :
1.      Guided Discovery-Inquiry Lab. Lesson
Sebagian perencanaan dibuat oleh guru. Selain itu guru menyediakan kesempatan bimbingan atau petunjuk yang cukup luas kepada siswa. Dalam hal ini siswa tidak merumuskan problema, sementara petunjuk yang cukup luas tentang bagaimana menyusun dan mencatat diberikan oleh guru.
2.      Modified Discovery-Inquiry
Guru hanya memberikan problema saja. Biasanya disediakan pula bahan atau alat-alat yang diperlukan, kemudian siswa diundang untuk memecahkannya melalui pengamatan, eksplorasi dan atau melalui prosedur penelitian untuk memperoleh jawabannya. Pemecahan masalah dilakukan atas inisiatif dan caranya sendiri secara berkelompok atau perseorangan. Guru berperan sebagai pendorong, nara sumber, dan memberikan bantuan yang diperlukan untuk menjamin kelancaran proses belajar siswa.
3.      Free Inquiry
Kegiatan free inquiry dilakukan setelah siswa mempelajarai dan mengerti bagaimana memecahkan suatu problema dan telah memperoleh pengetahuan cukup tentang bidang studi tertentu serta telah melakukan modified discovery-inquiry. Dalam metode ini siswa harus mengidentifikasi dan merumuskan macam problema yang akan dipelajari atau dipecahkan.
4.      Invitation Into Inquiry
Siswa dilibatkan dalam proses pemecahan problema sebagaimana cara-cara yang lazim diikuti scientist. Suatu undangan (invitation) memberikan suatu problema kepada siswa, dan melalui pertanyaan masalah yang telah direncanakan dengan hati-hati mengundang siswa untuk melakukan beberapa kegiatan atau kalau mungkin, semua kegiatan sebagai berikut : merancang eksperimen, merumuskan hipotesis, menetapkan kontrol, menentukan sebab akibat, menginterpretasi datadan membuat grafik
5.      Inquiry Role Approach
Inquiry Role Approachmerupakan kegiatan proses belajar yang melibatkan siswa dalam tim-tim yang masing-masing terdiri tas empat anggota untuk memecahkan invitation into inquiry. Masing-masing anggota tim diberi tugas suatu peranan yang berbeda-beda sebagai berikut : koodinator tim, penasihat teknis, pencatat data dan evaluator proses.
6.      Pictorial Riddle
Pendekatan dengan menggunakan pictorial riddle adalah salah satu teknik atau metode untuk mengembangkan motivasi dan minat siswa di dalam diskusi kelompok kecil maupun besar. Gambar atau peragaan, peragaan, atau situasi yang sesungguhnya dapat digunakan untuk meningkatkan cara berfikir kritis dan kreatif siswa. Suatu ridlle biasanya berupa gambar di papan tulis, papan poster, atau diproyeksikan dari suatu trasparansi, kemudian guru mengajukan pertanyaan yang berkaitan dengan ridlle itu.
7.      Synectics Lesson
Pada dasarnya syntetics memusatkan pada keterlibatan siswa untyuk membuat berbagai macam bentuk metafora (kiasan) supaya dapat membuka intelegensinya dan mengembangkan kreativitasnya. Hal ini dapat dilaksankan karena metafora dapat membantu dalam melepaskan “ikatan struktur mental” yang melekat kuat dalam memandang suatu problema sehingga dapat menunjang. 

                  B.     Implementasi Pendekatan (Discovery-Inquiry) dalam Pembelajaran PKN SD
1. Memahami bidang khusus dari materi pelajaran
2. Mengembangkan keterampilan proses sains
3. Mengembangkan kemampuan bertanya, memecahkan masalah dan melakukan   
     percobaan
4. Menerapkan pengetahuan dalam situasi baru yang berbeda.
5. Mengevaluasi dan mensintesis informasi, ide dan masalah baru
6. Memperkuat keterampilan berpikir kritis
           Sasaran afektif
1.      Memperoleh apresiasi untuk pertimbangan moral dan etika yang relevan dengan
bidang ilmu tertentu.
2. Meningkatkan intelektual dan integritas
3. Mendapatkan kemampuan untuk belajar dan menerapkan materi pengetahuan.
Pendekatan discovery merupakan pendekatan mengajar yang memerlukan proses mental, seperti mengamati, mengukur, menggolongkan, menduga, men-jelaskan, dan mengambil kesimpulan.
Pada kegiatan discovery guru hanya memberikan masalah dan siswa disuruh memecahkan masalah melalui percobaan. Pada pendekatan inquiry, siswa mengajukan masalah sendiri sesuai dengan pengarahan guru. Keterampilan mental yang dituntut lebih tinggi dari discovery antara lain: merancang dan melakukan percobaan, mengumpulkan dan menganalisis data, dan mengambil kesimpulan.
Pendekatan inquiry adalah pendekatan mengajar di mana siswa merumuskan masalah, mendesain eksperimen, mengumpulkan dan menganalisis data sampai mengambil keputusan sendiri.

Pendekatan inquiry harus memenuhi empat kriteria ialah kejelasan, kesesuaian ketepatan dan kerumitannya. Setelah guru mengundang siswa untuk mengajukan masalah yang erat hubungannya dengan pokok bahasan yang akan diajarkan, siswa akan terlibat dalam kegiatan inquiry dengan melalui 5 fase ialah:

Fase 1 : Siswa menghadapi masalah yang dianggap oleh siswa memberikan tantangan        untuk diteliti.
Fase 2 : Siswa melakukan pengumpulan data untuk menguji kondisi, sifat khusus dari objek teliti dan pengujian terhadap situasi masalah yang dihadapi.
Fase 3 : siswa mengumpulkan data untuk memisahkan variabel yang relevan, berhipotesis dan bereksperimen untuk menguji hipotesis sehingga diperoleh hubungan sebab akibat.
Fase 4 : merumuskan penemuan inquiry hingga diperoleh penjelasan,pernyataan, atau prinsip yang lebih formal.
Fase 5 : melakukan analisis terhadap proses inquiry, strategi yang dilakukan oleh guru maupun siswa. Analisis diperlukan untuk membantu siswa terarah pada mencari sebab akibat

2.2 Pendekatan Multikultural dan Implementasi dalam pembelajaran PKN SD
       A. Pendekatan Multikultural dalam Pembelajaran PKN SD
                Teori Pendidikan Multikultural
Pendidikan multikultural merupakan pendidikan yang membahas mengenai perbedaan budaya dan etnis secara mengglobal sehingga pembelajarannya cukup rumit karena tidak membahas hanya etnis dan budaya saja, tetapi juga membahas emic. Pendidikan multikultural dalam pandangan para pakar mendefiniskan atau menjelaskan pendidikan multicultural dari berbagai perspektifnya masing-masing. Para pakar yang mengeluarkan teori-teori tersebut yaitu sebagai berikut:
 a.    Horrace Kallen
Horrace Kallen memberikan pendapat mengenai multicultural yaitu jika budaya suatu bangsa memiliki banyak segi, nilai-nilai dan lainnya budaya tersebut disebut oleh Horrace Kallen sebagai pluralisme budaya atau Cultularl Pluralism). Horrace menggambarkan pluralism budaya sebagai penghargaan berbagai tingkat perbedaan, tetapi masih terdapat dalam batas-batas dalam menjaga persatuan nasional. Kallen dalam penjelasannya mencoba menggambarkan penjelasannya dalam lingkup daerah yaitu Amerika yang mana masing-masing etnis dan budaya di Amerika saling berkontribusi unik sehingga menambah variasi etnik dan budaya di Amerika. Dalam teorinya juga, Kallen menjelaskan sekaligus mengakui bahwa budaya yang dominan dalam masyarakat harus juga diakui oleh masyarakat sendiri. sebagai contoh yaitu keberagaman budaya yang ada di Jawa, budaya yang paling dominan di Jawa yaitu budaya Jawa namun juga terdapat budaya-budaya yang sedikit dominan di Jawa yang akan menambah variasi dan keberagaman budaya yang ada di Jawa.
  b.      Jams A. Banks
Jams A. Banks merupakan seorang yang dikenal sebagai perintis dari teori pendidikan multicultural hal tersebut dikarenakan Banks lebih menekankan dan lebih terfokus pada pendidikan multicultural. Menurut Banks, pendidikan lebih mengarah pada bagaimana berfikir dari pada apa yang dipikirkan serta Banks juga menjelaskan bahwa siswa harus diajari tentang bagaimana cara memahami berbagai jenis pengetahuan, konstruksi pengetahuan serta interpretasi yang berbeda-beda walaupun terkadang interpretasi pengetahuan tersebut berlawanan dengan pikiran siswa itu sendiri. Banks mengindentifikasikan tiga kelompok yang berbeda dalam hal keberadaan kelompok-kelompok budaya di Amerika Serikat. Yang pertama yaitu tradisionalis barat. Kelompok ini beranggapan bahwa mereka berada dalam keadaan terancam dan berbahaya karena mengenyampingkan kelompok fiminis, minoritas dan reformasi multicultural yang lain. Tapi kelompok ini masih sedikit memberikan perhatian terhadap pengajaran keanekaragaman atau multikultur.
  c.       Bill Martin
Bill Martin dalam tulisannya yang berjudul Multikulturalisme: Consumerist or Transformational? bahwa keseluruhan isu tentang multikulturalisme memunculkan pertanyaan tentang “perbedaan” yang Nampak sudah dilakukan berbagai teori filsafat atau teori sosial. Martin dalam pendapatnya meyebut afrosentris dan tradisional barat itu sebagai “Consumerist Multiculturalism”. Yang mana pendapatnya tersebut menentang afrosentris dan tradisional barat. Martin mengusulkan suatu hal yang baru yaitu multikulturalisme bukanlah konsumeris melainkan berupa transformational yang memerlukan kerangka kerja. Martin mngatakan bahwa disamping isu tentang kelas sosial ras, etnis, dan pandangan lain yang berbeda sehingga diperlukan komunikasi tentang berbagai segi pandangan yang berbeda pula. Masyarakat harus memiliki visi kolektif yang bertipe baru dari berubahan sosial menuju kea rah multikulturalisme yaitu sebuah visi yang muncul lewat transformasi.
d.      Martin J. Beck Matustik
Menurut Martin J. Beck Matustik, perdebatan tentang masyarakat multikultural yang terjadi di masyarakat Barat selalu berkaitan dengan norma atau tatanan masyarakat. Ia mengatakan bahwa semua segi dalam setiap pembicaraan budaya saat ini selalu mengarah pada pemikiran kembali norma barat atau The Western Canon yang mengakui bahwa dunia multikultural adalah dunia yang benar-benar ada dan nyata. Selain itu, Matustik juga beranggapan bahwa teori multikulturalisme meliputi berbagai hal yang mengarah kepada liberalisasi pendidikan dan politik Plato. Matustik yakin bahwa masyarakat harus menciptakan pencerahan multikultural yang baru yaitu multikulturalisme lokal yang semuanya saling berkaitan atau berhubungan secara global sebagai lawan dari monokultur nasional.
e.       Judith M. Green
Menurut Green, keunikan multikulturalisme tidak hanya dimiliki oleh Amerika, melainkan juga negara-negara lain yang mana negara tersebutpun harus mengakomodasikan berbagai kelompok kecil dari berbagai budaya yang berbeda-beda. Amerika dalam pandangan Green merupakan negara yang melakukan perubahan besar dalam transformasi berkat pendidikan, hal tersebut dikarenakan Amerika menganggap bahwa cara untuk melakukan perubahan yang efektif adalah melalui pendidikan tidak terkecuali pendidikan multikulturalnya. Amerika yang sejak keberadaannya telah memiliki masyarakat yang  mempunyai kebudayaan yang beragam yang dimana berbagai budaya telah bersatu melalui perjuangan, interaksi serta kerja sama.

B.      Pendekatan Pendidikan Multikultural
Dengan adanya teori-teori yang diperkenalkan oleh beberapa ahli tersebut, maka diperlukan adanya sebuah pendekatan tentang pendidikan multikultural. Beberapa pendidikan tersebut berupa:
     1.    Pendekatan Historis
Pendekatan ini mengandaikan bahwa materi yang diajarkan kepada pembelajar dengan menengok kembali ke belakang. Maksudnya agar pebelajar dan pembelajar mempunyai kerangka berpikir yang komplit sampai ke belakang untuk kemudian mereflesikan untuk masa sekarang atau mendatang. Dengan demikian materi yang diajarkan bisa ditinjau secara kritis dan dinamis.
     2.    Pendekatan Sosiologis
Pendekatan ini mengandaikan terjadinya proses kontekstualisasi atas apa yang pernah terjadi di masa sebelumnya atau datangnya di masa lampau.  Dengan pendekatan ini  materi yang diajarkan bisa menjadi aktual, bukan karena dibuat-buat tetapi karena senantiasa sesuai dengan perkembangan zaman yang terjadi, dan tidak bersifat indoktrinisasi karena kerangka berpikir yang dibangun adalah kerangka berpikir kekinian. Pendekatan ini bisa digabungkan dengan metode kedua, yakni metode pengayaan.
     3.    Pendekatan Kultural
Pendekatan ini menitikberatkan kepada otentisitas dan tradisi yang berkembang. Dengan pendekatan ini pembelajar bisa melihat mana tradisi yang otentik dan mana yang tidak. Secara otolatis pebelajar juga bisa mengetahui mana tradisi arab dan mana tradisi yang datang dari islam.
     4.    Pendekatan Psikologis
Pedekatan ini berusaha memperhatikan situasi psikologis perseorangan secara tersendiri dan mandiri. Artinya masing-masing pembelajar harus dilihat sebagai manusia mandiri dan unik dengan karakter dan kemampuan yang dimilikinya. Pendekatan ini menuntut seorang pebelajar harus cerdas dan pandai melihat kecenderungan pembelajar sehingga ia bisa mengetahui metode-metode mana saja yang cocok untuk pembelajar.
     5.    Pendekatan Estetik
Pendekatan estetik pada dasarnya mengajarkan pembelajar untuk berlaku sopan dan santun, damai, ramah, dan mencintai keindahan. Sebab segala materi kalau hanya didekati secara doktrinal dan menekan adanya otoritas-otoritas kebenaran maka pembelajar akan cenderung bersikap kasar. Sehingga mereka memerlukan pendekatan ini untuk mengapresiasikan segala gejala yang terjadi di masyarakat dengan melihatnya sebagai bagian dari dinamika kehidupan yang bernilai seni dan estetis.
     6.    Pendekatan Berprespektif Gender
Pendekatan ini mecoba memberikan  penyadaran kepada pembelajar untuk tidak membedakan jenis kelamin karena sebenarnya jenis kelamin bukanlah hal yang menghalangi seseorang untuk mencapai kesuksesan. Dengan pendekatan ini, segala bentuk konstruksi sosial yang ada di sekolah yang menyatakan bahwa perempuan berada di bawah laki-laki bisa dihilangkan.

              C.    Kelebihan dan Kekurangan Serta Solusinya
   1.   Kelebihan Pendidikan Multikultural
  Dalam pendidikan multikultural, ada dimensi-dimensi yang harus diperhatikan.                    Menurut James Blank (2003) ada lima dimensi pendidikan multikultural yang saling                 berkaitan, yaitu sebagai berikut:
          a.  Mengintegrasikan berbagai budaya dan kelompok untuk mengilustrasikan  konsep                     mendasar, generalisasi, dan teori dalam mata pelajaran.
         b.  Membawa siswa untuk memahami implikasi budaya ke dalam sebuah mata pelajaran.
        c.   Mnyesuaikan metode pengajaran dengan cara belajar siswa dalam rangka                                 memfasilitasi prestasi akademik.
        d.  Mengidentifikasi karakteristik ras siswa dan menentukan metode pengajarannya.
        e. Melatih kelompok untuk berpartisipasi dalam berbagai kegiatan, berinteraksi dengan             seluruh siswa dan staf yang berbeda ras dan etnis untuk menciptakan budaya akademik.
   2.     Kekurangan Pendidikan Multikultural dan Solusinya
          Mengimplementasikan pendidikan multikultural di sekolah mungkin saja akan                         mengalami hambatan atau kendala dalam pelaksanaannya. Ada beberapa hal yang harus           mendapat perhatian dan sejak awal perlu diantisipasi antara lain sebagai berikut:
     a.   Perbedaan Pemaknaan terhadap Pendidikan Multikultura
           Perbedaan pemaknaan akan menyebabkan perbedaan dalam mengimplementasikannya.                        Multikultural sering dimaknai orang hanya sebagai multi etnis sehingga bila di sekolah                         mereka ternyata siswanya homogen etnisnya, maka dirasa tidak perlu memberikan                               pendidikan multikultural pada mereka. Padahal pengertian pendidikan multikultural                              lebih luas dari itu. H.A.R. Tilaar (2002) mengatakan bahwa pendidikan multikultural                           tidak lagi semata-mata terfokus pada perbedaan etnis yang berkaitan dengan masalah                           budaya dan agama, tetapi lebih luas dari itu. Pendidikan multikultural mencakup                                  dan tujuan untuk mencapai sikap toleransi, menghargai keragaman, dan perbedaan,                              menghargai HAM, menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan, menyukai hidup damai,                        dan demokratis. Jadi, tidak sekadar mengetahui tata cara hidup suatu etnis atau suku                             bangsa tertentu.
      b.   Munculnya Gejala Diskontinuitas
Dalam pendidikan multikultural yang sarat dengan nilai-nilai kemanusiaan dan kebersamaan sering terjadi diskontinuitas nilai budaya. Peserta didik memiliki latar belakang sosiokultural di masyarakatnya sangat berbeda dengan yang terdapat di sekolah sehingga mereka mendapat kesulitan dalam beradaptasi di lingkungan sekolah. Tugas pendidikan, khususnya sekolah cukup berat. Di antaranya adalah mengembangkan kemungkinan terjadinya kontinuitas dan memeliharanya, serta berusaha menyingkirkan diskontinuitas yang terjadi. Untuk itu, berbagai unsur pelaku pendidikan di sekolah, baik itu guru, kepala sekolah, staf, bahkan orangtua dan tokoh masyarakat perlu memahami secara seksama tentang latar belakang sosiokultural peserta didik sampai pada tipe kemampuan berpikir dan kemampuan menghayati sesuatu dari lingkungan yang ada pada peserta didik. Sekolah memiliki kewajiban untuk meratakan jalan untuk masuk ke jalur kontinuitas.
     c.    Rendahnya Komitmen Berbagai Pihak
Pendidikan multikultural merupakan proses yang komprehensif sehingga menuntut komitmen yang kuat dari berbagai komponen pendidikan di sekolah. Hal ini kadang sulit untuk dipenuhi karena ketidaksamaan komitmen dan pemahaman tentang hal tersebut. Berhasilnya implementasi pendidikan multikultural sangat bergantung pada seberapa besar keinginan dan kepedulian masyarakat sekolah untuk melaksanakannya, khususnya adalah guru-guru.
Arah kebijakan pendidikan di Indonesia di masa mendatang menghendaki terwujudnya masyarakat madani, yaitu masyarakat yang lebih demokratis, egaliter, menghargai nilai-nilai kemanusiaan dan persamaan, serta menghormati perbedaan.
     d.    Kebijakan-kebijakan yang Suka Akan Keseragaman
Sudah sejak lama kebijakan pendidikan atau yang terkait dengan kepentingan pendidikan selalu diseragamkan, baik yang berwujud benda maupun konsep-konsep. Dengan adanya kondisi ini, maka para pelaku di sekolah cenderung suka pada keseragaman dan sulit menghargai perbedaan. Sistem pendidikan yang sudah sejak lama bersifat sentralistis, berpengaruh pula pada sistem perilaku dan tindakan orang-orang yang ada di dunia pendidikan tersebut sehingga sulit menghargai dan mengakui keragaman dan perbedaan.

          D.      IMPLEMENTASI PENDEKATAN MULTICULTURAL
Dalam rangka pemenuhan kewajiban mendidik, mengajar, melatih, mengarahkan, membimbing, menilai dan mengevaluasi, maka prasarat utama yang harus dimiliki guru adalah kemampuan dalam membangun model pembelajaran yang efektif, inovatif dan menyenangkan namun tetap relevan dengan realita di lingkungan masyarakat. Pendekatan integrated learning dan cooperative learning adalah beberapa model pendekatan yang efektif dalam memasukkan pendidikan multikultural ke dalam PKn di kelas. Beberapa poin penting yang harus dilakukan dalam memformulasikan pendidikan multikultural dalam PKn yang bersifat mudah dan efektif yaitu:
1.         Guru harus merencanakan strategi pembelajaran yang akan dipakai dalam kelas. Slavin (1984) mengatakan bahwa cooperative learning adalah suatu model pembelajaran di mana siswa belajar dan bekerja dalam kelompok-kelompok kecil secara kolaboratif anggotanya terdiri dari 6 orang dengan struktur kelompoknya yang bersifat heterogen (Etin Solihatin dan Raharjo, 2007:4). Jika yang dipakai adalah model cooperative learning, makastrategi ini digunakan untuk menandai adanya perkembangan kemampuan siswa dalam belajar bersama-sama mensosialisasikan konsep dan nilai budaya lokal dari daerahnya dalam komunitas belajar bersama teman. Dalam konteks belajar dengan pendekatan multikultural, penggunaan strategi cooperative learning, diharapkan mampu meningkatkan kadar partisipasi siswa dalam memberikan apresiasi terhadap nilai-nilai lokal serta membangun cara pandang kebangsaan. Dari kemampuan ini, siswa memiliki keterampilan mengembangkan kecakapan hidup dalam menghormati budaya lain, toleransi terhadap perbedaan, akomodatif, terbuka dan jujur dalam berinteraksi dengan teman (orang lain) yang berbeda suku, agama etnis dan budayanya, memiliki empati yang tinggi terhadap perbedaan budaya lain, dan mampu mengelola konflik dengan tanpa kekerasan (conflict non violent).
2.         Pembelajaran multikultural yang dilaksanakan di kelas oleh siswa bisa dimulai dari  hal/perbuatan yang kecil namun penuh makna (meaningfull). Siswa dan guru bisa memulainya bersama dengan melakukan tindakan nyata di kelas yang menunjukkan keterampilan multikultural. Maksudnya adalah sikap yang ditunjukkan karena kesadaran kultural kemudian diimplementasikan dalam suatu tindakan dalam format kemajemukan. Secara praktis bisa dicontohkan yaitu:
                                                              i.      Di awal atau akhir jam belajar guru memulai dengan menyuruh menyiapkan kelas kepada ketua kelas dengan menggunakan bahasa daerah tertentu. Penggunaan bahasa daerah dalam mengawali kelas ini bisa dilakukan setiap pertemuan palajaran PKn (misalnya) di kelas tersebut. Misalnya minggu pertama menyiapkan kelas dengan bahasa Sunda, minggu depan bahasa Minang, dst. Ini dimaksudkan agar guru dan antar siswa minimal mengetahui tentang bahasa daerah suatu masyarakat Indonesia, sebagai kekayaan budaya nasional. Kesadaran multikultural inilah yang mesti dikembangkan dalam kehidupan siswa, walaupun dengan cara yang sederhana.
                                                            ii.      Sudah menjadi tradisi di sekolah mayoritas siswanya adalah beragama tertentu karena kuantitasnya banyak, yang menjadi ketua kelas adalah agama mayoritas tadi. Ketua kelas bertugas menyiapkan di awal masuk dan pulang sekolah. Namun tradisi itu pada kondisi tertentu bisa diubah oleh guru. Maksudnya bisa saja guru mengintruksikan kepada siswa yang beragama minoritas untuk menyiapkan memimpin doa di kelas. Penulis pernah mencoba treatment ini, ketika menyuruh siswa yang beragama Katolik untuk memimpin doa di kelasnya, namun secara reaktif siswa lain yang mayoritas terkejut. Kenapa yang disuruh menyiapkan (memimpin doa) adalah agama minoritas. Itulah pertanyaan yang muncul dari mulut polos para siswa. Sebagai pendidik ini bagian dari pembelajaran, respon siswa seperti itu terjadi karena mereka belum terbiasa menerima perbedaan dan memposisikan “yang lain yang berbeda dengan kami” adalah sejajar dan memiliki hak yang sama. Dengan metode sederhana seperti di atas diharapkan akan terbangun karakter inklusif, toleran dan plural dalam diri siswa dan guru. Dari pendekatan sederhana tapi penuh makna (meaningfull approach) ini, melahirkan sikap hidup yang senantiasa menerima perbedaan dalam kehidupan.
                                                          iii.      Jika menggunakan pendekatan cooperative learning dalam pembelajaran PKn di kelas, maka guru bisa saja memberikan tugas misalnya kepada siswa yang telah dibagi dalam beberapa kelompok. Terpenting di sini yaitu pembagian kelompok tersebut harus dilakukan oleh guru dengan mempertimbangkan kemajemukan/multikulturalitas siswa tersebut. Umpamanya kelompok dibagi atas pertimbangan asal daerah, suku, agama,, gender dan kemampuan siswa. Siswa tidak boleh dimasukkan dalam kelompok berisikan siswa yang cenderung homogen (tanpa perbedaan agama, budaya, daerah, bahasa, gender dan kemampuan). Jadi dalam satu kelompok terdiri dari siswa yang berbeda secara multikultural. Agar terjadi interaksi antar pribadi yang berlatar berbeda secara horizontal. Ketika mereka telah berinteraksi diharapkan tumbuh sikap toleran, inklusif dan pluralis dalam diri siswa.
                                                          iv.      Jika menggunakan pendekatan integrated learning dalam pembelajaran PKn di kelas, maka guru harus memasukkan muatan pendidikan multikultural ke dalam materi-materi pembahasan PKn yang memang relevan. Seperti ketika belajar materi Kewarganegaraan, HAM dan sistem politik di kelas X. Materi budaya demokrasi & masyarakat madani dan budaya politik di kelas XI.. Di kelas XII materi yang relevan yaitu Pancasila sebagai ideologi terbuka kemudian globalisasi. Contoh-contoh materi dalam PKn tersebut bisa diintegrasikan dengan pendidikan multikultural yang sifatnya integral dalam pembahasannya. Ini dilakukan agar materi PKn tersebut tidak an sich dimaknai sebagai PKn itu sendiri namun lebih terbuka dan koheren dengan muatan lain (pendidikan multikultural). Siswa dan guru juga tidak bosan dalam pembelajaran di kelas, karena selalu merelevansikannya dengan muatan multikulturalisme, tentu dengan menggunakan media/alat (LCD/OHP) yang mudah dan efektif dalam pengunaannya. Guru atau siswa bisa juga menghadirkan/membawa contoh-contoh alat peraga yang berkaitan dengan materi PKn tertentu tapi juga relevan dengan konten pendidikan multikultural. Seperti siswa disuruh membawa tayangan (dalam bentuk CD atau lainnya) cerita budaya daerah tertentu. Kemudian dikaitkan dengan materi budaya politik Indonesia atau masyarakat madani. Bisa juga siswa diminta mengemukakan contoh (tentu dengan bukti fisik agar lebih menarik) tradisi daerah, makanan daerah tertentu untuk dianalisis mengenai eksistensi berbagai tradisi lokal tersebut di tengah arus globalisasi sekarang.
Menggagas pembelajaran PKn yang berbasis pendidikan multikultural ini merupakan satu metode dan strategi sederhana, dalam rangka menciptakan karakter anak bangsa yang bisa hidup dalam nuansa perbedaan. Menurut Malik Fajar bahwa PKn sebagai wahana untuk mengembangkan kemampuan, watak dan karakter warga negara yang demokratis dan bertanggungjawab (Nadiroh, dalam Jurnal Kewarganegaraan, 2006:8). Hal ini terjadi karena salah satu tujuan PKn adalah mebangun karakter warga negara yang demokratis (Cholisin, 2006). Pendidikan demokrasi yang menjadi bagian dalam konten PKn akan tercapai jika komponen-komponen sosio-kultural Indonesia sebagai bangsa, dipahami sebagai kekayaan alam nusantara. Komponen-komponen sosio-kultural tadi diformulasikan dalam bentuk pendidikan multikultural. Oleh guru sebagai mediator di kelas, dikonstruksi sebuah pendekatan sederhana tapi penuh makna dalam PKn yaitu berbasis multikultural. Pembelajaran PKn sekaligus berisikan pendidikan multikultural bisa dan mudah dilaksanakan karena cirinya yang sederhana, bisa berulang (kontinuitas) dan terjangkau (karena bisa dilakukan langsung di kelas oleh guru bersama siswa). Dengan model sederhana ini diharapkan pembelajaran PKn akan lebih bermakna bagi siswa dan tetap menjadi muatan pembelajaran strategis dalam upaya membangun karakter bangsa (nation and character building).

               BAB III
               PENUTUP

3.1   KESIMPULAN
Pendekatan adalah cara umum dalam memandang suatu permasalahan atau objek kajian, dalam hal ini adalah pendekatan pembelajaran. Pendekatan pembelajaran sendiri memiliki arti suatu sudut pandang tentang proses pembelajaran  yang masih dalam arti umum  yang didalamnya dapat mewadahi, menguatkan, memberikan inspirasi
Proses interaksi pembelajaran yang mampu meningkatkan hasil belajar pada siswa ialah bagaimana cara guru melakukan pendekatan yang sesuai dengan karakter  siswa, kurikulum dan meteri pembelajaran. Sehingga seorang pendidik harus tahu jenis-jenis pendekatan pembelajaran dan pemahamannya.
Dalam merancang implementasi pendekatan pembelajaran, harus disesuaikan dengan perubahan kurikulum yang sedang berlasung. Karena pendekatan akan lebih efektif dan efisien ketika pendekatan tersebut lebih cepat mewujudkan tujuan pendidikan sesuai kurikulum yang ada. Berikut adalah contoh rancangan dalam mengimplementasikan pendekatan pembelajaran dikaitkan dengan pendekatan saintifik (5M) dalam kurikulum 2013 yaitu : Pendekatan Inkuiri, Pendekatan berbasis masalah, Pendekatan Berbasis Proyek, Pendekatan berorientasi pada siswa.

3.2  SARAN
Dari makalah  yang singkat ini mudah-mudahan dapat bermanfaat bagi kita semua. Penulis menyadari  bahwa makalah  ini jauh dari kata sempurna, masih banyak kesalahan dari berbagai sisi, jadi penulis berharap kritik yang bersifat membangun, untuk perbaikan dan kesempuraan dari makalah ini.
Selain itu penulis menyarankan kepada pembaca agar memahami dan memperhatikan pendekatan pembelajaran yang sesuai dengan perubahan kurikulum yang semakin berkembang dalam mencapai tujuan pendidikan yang lebih baik

Tidak ada komentar:

Posting Komentar