MAKALAH
PENGEMBANGAN PEMBELAJARAN PKN SD
Disusun
untuk melengkapi tugas mata kuliah “Pengembangan Pembelajaran PKN SD”
Disusun
Oleh :
Anggie
Octaviany (2015820040)
Rahma
Puzi A.L (2015820006)
Nirwan
Rianda (2015820030)
Windia
Alfiani (2015820009)
Rega
triana (2015820027)
Syara
Afifah Muthia (2015820019)
PROGRAM STUDI
PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR
FAKULTAS ILMU
PENDIDIKAN
UNIVERSITAS
MUHAMMADIYAH JAKARTA
2017
KATA PENGANTAR
Assalamu’alaikum
Wr. Wb.
Puji
syukur senantiasa selalu kami panjatkan kepada Allah SWT yang telah memberikan
limpahan rahmat, taufik, dan hidayah-Nya
sehingga kami dapat menyelesaikan penyusunan makalah ini. Shalawat serta salam tak lupa kami
curahkan kepada Nabi Muhammad SAW yang telah menunjukkan jalan kebaikan dan
kebenaran di dunia dan akhirat kepada umat manusia.
Makalah
ini disusun guna memenuhi tugas Mata Kuliah
Pengembangan Pembelajaran PKN SD dan juga
untuk khalayak ramai sebagai bahan penambahan ilmu pengetahuan serta informasi
yang semoga bermanfaat. Makalah ini
disusun dengan segala kemampuan kami dan semaksimal mungkin. Namun, kami menyadari bahwa dalam penyusunan makalah
ini tentu tidaklah sempurna dan masih banyak kesalahan serta kekurangan. Maka
dari itu kami mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari semua pembaca
dan terutama Dosen Mata Kuliah Pengembangan Pembelajaran PKN SD.
Wassalamu’alaikum
Wr. Wb.
Jakarta,
23 September 2017
Penyusun
BAB I
PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang
Pendidikan adalah usaha sadar dan
terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta
didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan
spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia,
serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.
Artinya bahwa proses pendidikan itu dilakukan secara sengaja dan penuh dengan
kesadaran dan ditambah lagi dengan terencana melalui proses belajar mengajar
(Tim penyusun, 2003).
Hal ini menunjukkan bahwa hakekat
pendidikan adalah sebuah pengembangan kecerdasan yang melahirkan sebuah
karakter. Pendidikan dapat dipahami dan didekati dari berbagai dimensi.
Pendidikan itu merupakan proses yang tidak akan pernah selesai (never ending
process). Manusia itu adalah hasil dari proses belajar mengajar dan
belajar itu merupakan salah satu proses didalam kepribadian siswa (Hakim,
2000:1)
Proses belajar tersebut sudah dimulai
sejak manusia ada di dunia ini. Ia lahir tanpa memiliki pengetahuan, sikap, dan
kecakapan apa pun, kemudian tumbuh dan berkembang menjadi mengetahui, mengenal,
dan menguasai banyak hal. Itu terjadi karena proses belajar dengan menggunakan
potensi dan kapasitas diri yang telah dianugerahkan Tuhan kepadanya. Dan
didalam proses belajar mengajar itu perlu diperhatikan mengenai
pendekatan-pendekatan dalam proses belajar mengajar.
Dalam proses pembelajaran terdapat
komponen siswa sebagai obyek yang sedang belajar dan guru sebagai pengajar untuk
memberikan materi pelajaran guna terjadi perubahan pada diri siswa. Mengajar
merupakan suatu kegiatan yang dilakukan seseorang yang memiliki pengetahuan
atau keterampilan yang lebih dari pada yang diajar, untuk memberikan suatu
pengertian, kecakapan atau ketangkasan. Seperti dikemukakan oleh Slameto (2003:
97) bahwa ”kegiatan mengajar meliputi penyampaian pengetahuan, menularkan
sikap, kecakapan atau keterampilan yang diatur sesuai dengan lingkungan dan
yang menghubungkannya dengan subyek yang sedang diajar”.
Dengan pendekatan sistem, arah dan
tujuan pembelajaran dapat direncanakan dengan jelas. Dengan tujuan yang jelas,
maka kita dapat menetapkan arah dan sasaran dengan pasti. Perumusan tujuan
merupakan salah satu karakteristik pendekatan sistem. Penentuan
komponen-komponen pembelajaran pada dasarnya diarahkan untuk mencapai tujuan.
Melalui pendekatan sistem, setiap guru dapat lebih memahami tujuan dan arah
pembelajaran untuk menentukan langkah-langkah pembelajaran dan pengembangan
komponen yang lain, dan dapat dijadikan kriteria efektivitas proses
pembelajaran.
1.2 Rumusan Masalah
a 1. Apa yang dimaksud dengan
Pendekatan Inquiry – Discovery dan Implementasi dalam
pembelajaran PKN SD
b 2 Apa
yang dimaksud dengan Pendekatan Multikultural dan Implementasi dalam pembelajaran PKN SD
1.3 Tujuan
a 1. Mengetahui
tentang Pendekatan Inquiry – Discovery dan
Implementasi dalam pembelajaran PKN SD
b 2. Mengetahui
tentang Pendekatan Multikultural dan
Implementasi dalam pembelajaran PKN SD
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 PEMBELAJARAN INQUIRY DAN DISCOVERY
A. Pendektan Metode Penemuan (Discovery-Inquiry)
dalam Pembelajaran PKN SD
Metode penemuan adalah cara penyajian pelajaran yang banyak
melibatkan siswa dalam proses-proses mental dalam rangka penemuannya. Menurut
Sund (Sudirman N, 1992 ), discovery adalah proses mental, dan
dalam proses itu individu mengasimilasi konsep dan prinsip-prinsip. Istilah
asing yang sering digunakan untuk metode ini ialah discovery yang
berarti penemuan, atau inquiry yang berarti mencari.
Mengenai penggunaan istilah discovery dan inquiry para
ahli terbagi ke dalam dua pendapat, yaitu :
·
Istilah-istilah discovery dan inquiry dapat
diartikan dengan maksud yang sama dan digunakan saling bergantian atau keduanya
sekaligus.
·
Istilah discovery, sekalipun secara
umum menunjuk kepada pengertian yang sama dengan inquiry, pada
hakikatnya mengandung perbedaan dengan inquiry.
Moh. Amin (Sudirman N, 1992 ) menjelaskan bahwa pengajaran discovery harus
meliputi pengalaman-pengalaman belajar untuk menjamin siswa dapat mengembangkan
proses-proses discovery. Inquiry dibentuk dan
meliputi discovery dan lebih banyak lagi. Dengan kata
lain, inquiry adalah suatu perluasan proses-proses discovery yang
digunakan dalam cara lebih dewasa. Sebagai tambahan pada proses-proses discovery, inquiry mengandung
proses-proses mental yang lebih tinggi tingkatannya, misalnya merumuskan
problema sendiri, merancang eksperimen, melakukan eksperimen, mengumpulkan dan
menganalisis data, menarik kesimpulan, mempunyai sikap-sikap obyektif, jujur,
hasrat ingin tahu, terbuka, dan sebagainya.
Mengenai kelebihan dan kekurangan metode penemuan/discovery-inquiry diuraikan
oleh Sudirman N, dkk (1992) sebagai berikut :
Kelebihan metode penemuan/discovery-inquiry :
1. Strategi pengajaran menjadi
berubah dari yang bersifat penyajian informasi oleh guru kepada siswa sebagai
penerima informasi yang baik tetapi proses mentalnya berkadar rendah, menjadi
pengajaran yang menekankan kepada proses pengolahan informasi di mana siswa
yang aktif mencari dan mengolah sendiri informasi yang kadar proses mentalnya
lebih tinggi atau lebih banyak.
2. Siswa akan mengerti
konsep-konsep dasar atau ide lebih baik.
3. Membantu siswa dalam
menggunakan ingatan dan dalam rangka transfer kepada siutuasi-situasi proses
belajar yang baru.
4. Mendorong siswa untuk
berfikur dan bekerja atas inisiatifnya sendiri.
5. Memungkinkan siswa belajar
dengan memanfaatkan berbagai jenis sumber belajar yang tida hanya menjadikan
guru sebagai satu-satunya sumber belajar.
6. Metode ini dapat memperkaya
dan memperdalam materi yang dipelajari sehingga retensinya 9tahan lama dalam
ingatan) menjadi lebih baik.
Kekurangan metode penemuan/discovery-inquiry :
1. Memerlukan perubahan
kebiasaan cara belajar siswa yang menerima informasi dari guru apa adanya, ke
arah membiasakan belajar mandiri dan berkelompok dengan mencari dan mengolah
informasi sendiri. Mengubah kebiasaan bukanlah sesuatu yang mudah, apalagi
kebiasaan yang telah bertahun-tahun dilakukan.
2. Guru dituntut mengubah
kebiasaan mengajar yang umumnya sebagai pemberi informasi menjadi fasilitator,
motivator, dan pembimbing siswa dalam belajar. Inipun bukan pekerjaan yang
mudah karena umumnya guru merasa belum puas kalau tidak banyak menyajikan
informasi (ceramah).
3. Metode ini memberikan
kebebasan pada siswa dalam belajar, tetapi tidak berarti menjamin bahwa siswa
belajar dengan tekun, penuh aktivitas, dan terarah.
4. Cara belajar siswa dalam
metode ini menuntut bimbingan guru yang lebih baik. Dalam kondisi siswa banyak
(kelas besar) dan guru terbatas, agaknya metode ini sulit terlaksana dengan
baik.
Jenis-Jenis Metode Penemuan (Discovery-Inquiry)
Moh. Amin (Sudirman N, 1992) menguraikan tentang tujuh jenis inquiry-discovery yang
dapat diikuti sebagai berikut :
1. Guided Discovery-Inquiry
Lab. Lesson
Sebagian perencanaan dibuat oleh guru. Selain itu guru menyediakan
kesempatan bimbingan atau petunjuk yang cukup luas kepada siswa. Dalam hal ini
siswa tidak merumuskan problema, sementara petunjuk yang cukup luas tentang
bagaimana menyusun dan mencatat diberikan oleh guru.
2. Modified Discovery-Inquiry
Guru hanya memberikan problema saja. Biasanya disediakan pula
bahan atau alat-alat yang diperlukan, kemudian siswa diundang untuk
memecahkannya melalui pengamatan, eksplorasi dan atau melalui prosedur
penelitian untuk memperoleh jawabannya. Pemecahan masalah dilakukan atas
inisiatif dan caranya sendiri secara berkelompok atau perseorangan. Guru
berperan sebagai pendorong, nara sumber, dan memberikan bantuan yang diperlukan
untuk menjamin kelancaran proses belajar siswa.
3. Free Inquiry
Kegiatan free inquiry dilakukan setelah siswa
mempelajarai dan mengerti bagaimana memecahkan suatu problema dan telah
memperoleh pengetahuan cukup tentang bidang studi tertentu serta telah
melakukan modified discovery-inquiry. Dalam metode ini siswa harus mengidentifikasi
dan merumuskan macam problema yang akan dipelajari atau dipecahkan.
4. Invitation Into Inquiry
Siswa dilibatkan dalam proses pemecahan problema sebagaimana
cara-cara yang lazim diikuti scientist. Suatu undangan (invitation) memberikan
suatu problema kepada siswa, dan melalui pertanyaan masalah yang telah
direncanakan dengan hati-hati mengundang siswa untuk melakukan beberapa
kegiatan atau kalau mungkin, semua kegiatan sebagai berikut : merancang
eksperimen, merumuskan hipotesis, menetapkan kontrol, menentukan sebab akibat,
menginterpretasi datadan membuat grafik
5. Inquiry Role Approach
Inquiry
Role Approachmerupakan kegiatan proses belajar yang melibatkan siswa dalam
tim-tim yang masing-masing terdiri tas empat anggota untuk memecahkan invitation
into inquiry. Masing-masing anggota tim diberi tugas suatu peranan yang
berbeda-beda sebagai berikut : koodinator tim, penasihat teknis, pencatat data
dan evaluator proses.
6. Pictorial Riddle
Pendekatan dengan menggunakan pictorial riddle adalah
salah satu teknik atau metode untuk mengembangkan motivasi dan minat siswa di
dalam diskusi kelompok kecil maupun besar. Gambar atau peragaan, peragaan, atau
situasi yang sesungguhnya dapat digunakan untuk meningkatkan cara berfikir
kritis dan kreatif siswa. Suatu ridlle biasanya berupa gambar
di papan tulis, papan poster, atau diproyeksikan dari suatu trasparansi,
kemudian guru mengajukan pertanyaan yang berkaitan dengan ridlle itu.
7. Synectics Lesson
Pada dasarnya syntetics memusatkan pada
keterlibatan siswa untyuk membuat berbagai macam bentuk metafora (kiasan)
supaya dapat membuka intelegensinya dan mengembangkan kreativitasnya. Hal ini
dapat dilaksankan karena metafora dapat membantu dalam melepaskan “ikatan
struktur mental” yang melekat kuat dalam memandang suatu problema sehingga
dapat menunjang.
B. Implementasi Pendekatan (Discovery-Inquiry)
dalam Pembelajaran PKN SD
1.
Memahami bidang khusus dari materi pelajaran
2.
Mengembangkan keterampilan proses sains
3.
Mengembangkan kemampuan bertanya, memecahkan masalah dan melakukan
percobaan
5.
Mengevaluasi dan mensintesis informasi, ide dan masalah baru
6.
Memperkuat keterampilan berpikir kritis
Sasaran
afektif
1.
Memperoleh apresiasi untuk
pertimbangan moral dan etika yang relevan dengan
bidang
ilmu tertentu.
2.
Meningkatkan intelektual dan integritas
3.
Mendapatkan kemampuan untuk belajar dan menerapkan materi pengetahuan.
Pendekatan discovery merupakan pendekatan mengajar yang memerlukan
proses mental, seperti mengamati, mengukur, menggolongkan, menduga,
men-jelaskan, dan mengambil kesimpulan.
Pada kegiatan discovery guru hanya memberikan masalah dan
siswa disuruh memecahkan masalah melalui percobaan. Pada pendekatan inquiry,
siswa mengajukan masalah sendiri sesuai dengan pengarahan guru. Keterampilan
mental yang dituntut lebih tinggi dari discovery antara lain: merancang dan
melakukan percobaan, mengumpulkan dan menganalisis data, dan mengambil
kesimpulan.
Pendekatan inquiry adalah pendekatan mengajar di mana siswa
merumuskan masalah, mendesain eksperimen, mengumpulkan dan menganalisis data
sampai mengambil keputusan sendiri.
Pendekatan
inquiry harus memenuhi empat kriteria ialah kejelasan, kesesuaian ketepatan dan
kerumitannya. Setelah guru mengundang siswa untuk mengajukan masalah yang erat
hubungannya dengan pokok bahasan yang akan diajarkan, siswa akan terlibat dalam
kegiatan inquiry dengan melalui 5 fase ialah:
Fase
1 : Siswa menghadapi masalah yang dianggap oleh siswa memberikan
tantangan untuk diteliti.
Fase
2 : Siswa melakukan pengumpulan data untuk menguji kondisi, sifat
khusus dari objek teliti dan pengujian terhadap situasi masalah yang dihadapi.
Fase
3 : siswa mengumpulkan data untuk memisahkan variabel yang relevan,
berhipotesis dan bereksperimen untuk menguji hipotesis sehingga diperoleh
hubungan sebab akibat.
Fase
4 : merumuskan penemuan inquiry hingga diperoleh penjelasan,pernyataan,
atau prinsip yang lebih formal.
Fase
5 : melakukan analisis terhadap proses inquiry, strategi yang dilakukan
oleh guru maupun siswa. Analisis diperlukan untuk membantu siswa terarah pada
mencari sebab akibat
2.2 Pendekatan
Multikultural dan Implementasi dalam pembelajaran PKN SD
A. Pendekatan
Multikultural dalam Pembelajaran PKN SD
. Teori Pendidikan Multikultural
Pendidikan
multikultural merupakan pendidikan yang membahas mengenai perbedaan budaya dan
etnis secara mengglobal sehingga pembelajarannya cukup rumit karena tidak
membahas hanya etnis dan budaya saja, tetapi juga membahas emic. Pendidikan
multikultural dalam pandangan para pakar mendefiniskan atau menjelaskan
pendidikan multicultural dari berbagai perspektifnya masing-masing. Para pakar
yang mengeluarkan teori-teori tersebut yaitu sebagai berikut:
a.
Horrace Kallen
Horrace Kallen memberikan pendapat
mengenai multicultural yaitu jika budaya suatu bangsa memiliki banyak segi,
nilai-nilai dan lainnya budaya tersebut disebut oleh Horrace Kallen sebagai
pluralisme budaya atau Cultularl
Pluralism). Horrace menggambarkan pluralism budaya sebagai penghargaan
berbagai tingkat perbedaan, tetapi masih terdapat dalam batas-batas dalam
menjaga persatuan nasional. Kallen dalam penjelasannya mencoba menggambarkan
penjelasannya dalam lingkup daerah yaitu Amerika yang mana masing-masing etnis
dan budaya di Amerika saling berkontribusi unik sehingga menambah variasi etnik
dan budaya di Amerika. Dalam teorinya juga, Kallen menjelaskan sekaligus
mengakui bahwa budaya yang dominan dalam masyarakat harus juga diakui oleh
masyarakat sendiri. sebagai contoh yaitu keberagaman budaya yang ada di Jawa,
budaya yang paling dominan di Jawa yaitu budaya Jawa namun juga terdapat
budaya-budaya yang sedikit dominan di Jawa yang akan menambah variasi dan
keberagaman budaya yang ada di Jawa.
b. Jams A. Banks
Jams A. Banks merupakan seorang yang
dikenal sebagai perintis dari teori pendidikan multicultural hal tersebut
dikarenakan Banks lebih menekankan dan lebih terfokus pada pendidikan
multicultural. Menurut Banks, pendidikan lebih mengarah pada bagaimana berfikir
dari pada apa yang dipikirkan serta Banks juga menjelaskan bahwa siswa harus
diajari tentang bagaimana cara memahami berbagai jenis pengetahuan, konstruksi
pengetahuan serta interpretasi yang berbeda-beda walaupun terkadang
interpretasi pengetahuan tersebut berlawanan dengan pikiran siswa itu sendiri.
Banks mengindentifikasikan tiga kelompok yang berbeda dalam hal keberadaan
kelompok-kelompok budaya di Amerika Serikat. Yang pertama yaitu tradisionalis
barat. Kelompok ini beranggapan bahwa mereka berada dalam keadaan terancam dan
berbahaya karena mengenyampingkan kelompok fiminis, minoritas dan reformasi
multicultural yang lain. Tapi kelompok ini masih sedikit memberikan perhatian
terhadap pengajaran keanekaragaman atau multikultur.
c. Bill Martin
Bill Martin dalam tulisannya yang
berjudul Multikulturalisme: Consumerist
or Transformational? bahwa keseluruhan isu tentang multikulturalisme
memunculkan pertanyaan tentang “perbedaan” yang Nampak sudah dilakukan berbagai
teori filsafat atau teori sosial. Martin dalam pendapatnya meyebut afrosentris
dan tradisional barat itu sebagai “Consumerist
Multiculturalism”. Yang mana pendapatnya tersebut menentang afrosentris dan
tradisional barat. Martin mengusulkan suatu hal yang baru yaitu
multikulturalisme bukanlah konsumeris melainkan berupa transformational yang
memerlukan kerangka kerja. Martin mngatakan bahwa disamping isu tentang kelas
sosial ras, etnis, dan pandangan lain yang berbeda sehingga diperlukan
komunikasi tentang berbagai segi pandangan yang berbeda pula. Masyarakat harus
memiliki visi kolektif yang bertipe baru dari berubahan sosial menuju kea rah
multikulturalisme yaitu sebuah visi yang muncul lewat transformasi.
d. Martin
J. Beck Matustik
Menurut Martin J. Beck Matustik,
perdebatan tentang masyarakat multikultural yang terjadi di masyarakat Barat
selalu berkaitan dengan norma atau tatanan masyarakat. Ia mengatakan bahwa
semua segi dalam setiap pembicaraan budaya saat ini selalu mengarah pada
pemikiran kembali norma barat atau The
Western Canon yang mengakui bahwa dunia multikultural adalah dunia yang
benar-benar ada dan nyata. Selain itu, Matustik juga beranggapan bahwa teori
multikulturalisme meliputi berbagai hal yang mengarah kepada liberalisasi
pendidikan dan politik Plato. Matustik yakin bahwa masyarakat harus menciptakan
pencerahan multikultural yang baru yaitu multikulturalisme lokal yang semuanya
saling berkaitan atau berhubungan secara global sebagai lawan dari monokultur
nasional.
e.
Judith M. Green
Menurut
Green, keunikan multikulturalisme tidak hanya dimiliki oleh Amerika, melainkan
juga negara-negara lain yang mana negara tersebutpun harus mengakomodasikan
berbagai kelompok kecil dari berbagai budaya yang berbeda-beda. Amerika dalam
pandangan Green merupakan negara yang melakukan perubahan besar dalam
transformasi berkat pendidikan, hal tersebut dikarenakan Amerika menganggap
bahwa cara untuk melakukan perubahan yang efektif adalah melalui pendidikan
tidak terkecuali pendidikan multikulturalnya. Amerika yang sejak keberadaannya
telah memiliki masyarakat yang mempunyai
kebudayaan yang beragam yang dimana berbagai budaya telah bersatu melalui
perjuangan, interaksi serta kerja sama.
B.
Pendekatan Pendidikan Multikultural
Dengan
adanya teori-teori yang diperkenalkan oleh beberapa ahli tersebut, maka
diperlukan adanya sebuah pendekatan tentang pendidikan multikultural. Beberapa
pendidikan tersebut berupa:
1.
Pendekatan Historis
Pendekatan ini mengandaikan bahwa
materi yang diajarkan kepada pembelajar dengan menengok kembali ke belakang.
Maksudnya agar pebelajar dan pembelajar mempunyai kerangka berpikir yang
komplit sampai ke belakang untuk kemudian mereflesikan untuk masa sekarang atau
mendatang. Dengan demikian materi yang diajarkan bisa ditinjau secara kritis
dan dinamis.
2.
Pendekatan Sosiologis
Pendekatan ini mengandaikan terjadinya
proses kontekstualisasi atas apa yang pernah terjadi di masa sebelumnya atau
datangnya di masa lampau. Dengan pendekatan ini materi yang
diajarkan bisa menjadi aktual, bukan karena dibuat-buat tetapi karena
senantiasa sesuai dengan perkembangan zaman yang terjadi, dan tidak bersifat
indoktrinisasi karena kerangka berpikir yang dibangun adalah kerangka berpikir
kekinian. Pendekatan ini bisa digabungkan dengan metode kedua, yakni metode
pengayaan.
3. Pendekatan Kultural
Pendekatan ini menitikberatkan kepada
otentisitas dan tradisi yang berkembang. Dengan pendekatan ini pembelajar bisa
melihat mana tradisi yang otentik dan mana yang tidak. Secara otolatis
pebelajar juga bisa mengetahui mana tradisi arab dan mana tradisi yang datang
dari islam.
4. Pendekatan Psikologis
Pedekatan ini berusaha memperhatikan
situasi psikologis perseorangan secara tersendiri dan mandiri. Artinya
masing-masing pembelajar harus dilihat sebagai manusia mandiri dan unik dengan
karakter dan kemampuan yang dimilikinya. Pendekatan ini menuntut seorang
pebelajar harus cerdas dan pandai melihat kecenderungan pembelajar sehingga ia
bisa mengetahui metode-metode mana saja yang cocok untuk pembelajar.
5.
Pendekatan Estetik
Pendekatan estetik pada dasarnya
mengajarkan pembelajar untuk berlaku sopan dan santun, damai, ramah, dan
mencintai keindahan. Sebab segala materi kalau hanya didekati secara doktrinal
dan menekan adanya otoritas-otoritas kebenaran maka pembelajar akan cenderung
bersikap kasar. Sehingga mereka memerlukan pendekatan ini untuk
mengapresiasikan segala gejala yang terjadi di masyarakat dengan melihatnya
sebagai bagian dari dinamika kehidupan yang bernilai seni dan estetis.
6.
Pendekatan Berprespektif Gender
Pendekatan
ini mecoba memberikan penyadaran kepada pembelajar untuk tidak membedakan
jenis kelamin karena sebenarnya jenis kelamin bukanlah hal yang menghalangi
seseorang untuk mencapai kesuksesan. Dengan pendekatan ini, segala bentuk
konstruksi sosial yang ada di sekolah yang menyatakan bahwa perempuan berada di
bawah laki-laki bisa dihilangkan.
C.
Kelebihan
dan Kekurangan Serta Solusinya
1. Kelebihan Pendidikan Multikultural
Dalam pendidikan multikultural, ada dimensi-dimensi
yang harus diperhatikan. Menurut James Blank (2003) ada lima dimensi pendidikan
multikultural yang saling berkaitan, yaitu sebagai berikut:
a. Mengintegrasikan berbagai budaya dan kelompok
untuk mengilustrasikan konsep mendasar, generalisasi,
dan teori dalam mata pelajaran.
b. Membawa siswa untuk memahami implikasi
budaya ke dalam sebuah mata pelajaran.
c. Mnyesuaikan metode
pengajaran dengan cara belajar siswa dalam rangka memfasilitasi prestasi
akademik.
d. Mengidentifikasi karakteristik ras siswa dan
menentukan metode pengajarannya.
e.
Melatih kelompok
untuk berpartisipasi dalam berbagai kegiatan, berinteraksi dengan seluruh siswa
dan staf yang berbeda ras dan etnis untuk menciptakan budaya akademik.
2. Kekurangan Pendidikan Multikultural dan
Solusinya
Mengimplementasikan
pendidikan multikultural di sekolah mungkin saja akan mengalami hambatan atau
kendala dalam pelaksanaannya. Ada beberapa hal yang harus mendapat perhatian
dan sejak awal perlu diantisipasi antara lain sebagai berikut:
a. Perbedaan Pemaknaan terhadap Pendidikan
Multikultura
Perbedaan pemaknaan akan menyebabkan
perbedaan dalam mengimplementasikannya. Multikultural sering dimaknai orang
hanya sebagai multi etnis sehingga bila di sekolah mereka ternyata siswanya
homogen etnisnya, maka dirasa tidak perlu memberikan pendidikan multikultural
pada mereka. Padahal pengertian pendidikan multikultural lebih luas dari itu.
H.A.R. Tilaar (2002) mengatakan bahwa pendidikan multikultural tidak lagi
semata-mata terfokus pada perbedaan etnis yang berkaitan dengan masalah budaya
dan agama, tetapi lebih luas dari itu. Pendidikan multikultural mencakup dan tujuan untuk mencapai sikap toleransi, menghargai keragaman, dan perbedaan, menghargai HAM, menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan, menyukai hidup
damai, dan demokratis. Jadi, tidak sekadar mengetahui tata cara hidup suatu
etnis atau suku bangsa tertentu.
b. Munculnya Gejala Diskontinuitas
Dalam pendidikan multikultural yang
sarat dengan nilai-nilai kemanusiaan dan kebersamaan sering terjadi
diskontinuitas nilai budaya. Peserta didik memiliki latar belakang
sosiokultural di masyarakatnya sangat berbeda dengan yang terdapat di sekolah
sehingga mereka mendapat kesulitan dalam beradaptasi di lingkungan sekolah.
Tugas pendidikan, khususnya sekolah cukup berat. Di antaranya adalah
mengembangkan kemungkinan terjadinya kontinuitas dan memeliharanya, serta
berusaha menyingkirkan diskontinuitas yang terjadi. Untuk itu, berbagai unsur
pelaku pendidikan di sekolah, baik itu guru, kepala sekolah, staf, bahkan
orangtua dan tokoh masyarakat perlu memahami secara seksama tentang latar
belakang sosiokultural peserta didik sampai pada tipe kemampuan berpikir dan
kemampuan menghayati sesuatu dari lingkungan yang ada pada peserta didik.
Sekolah memiliki kewajiban untuk meratakan jalan untuk masuk ke jalur
kontinuitas.
c. Rendahnya Komitmen Berbagai Pihak
Pendidikan multikultural merupakan
proses yang komprehensif sehingga menuntut komitmen yang kuat dari berbagai
komponen pendidikan di sekolah. Hal ini kadang sulit untuk dipenuhi karena
ketidaksamaan komitmen dan pemahaman tentang hal tersebut. Berhasilnya
implementasi pendidikan multikultural sangat bergantung pada seberapa besar
keinginan dan kepedulian masyarakat sekolah untuk melaksanakannya, khususnya
adalah guru-guru.
Arah kebijakan pendidikan di Indonesia
di masa mendatang menghendaki terwujudnya masyarakat madani, yaitu masyarakat
yang lebih demokratis, egaliter, menghargai nilai-nilai kemanusiaan dan
persamaan, serta menghormati perbedaan.
d. Kebijakan-kebijakan yang Suka Akan
Keseragaman
Sudah sejak lama kebijakan pendidikan
atau yang terkait dengan kepentingan pendidikan selalu diseragamkan, baik yang
berwujud benda maupun konsep-konsep. Dengan adanya kondisi ini, maka para
pelaku di sekolah cenderung suka pada keseragaman dan sulit menghargai
perbedaan. Sistem pendidikan yang sudah sejak lama bersifat sentralistis,
berpengaruh pula pada sistem perilaku dan tindakan orang-orang yang ada di
dunia pendidikan tersebut sehingga sulit menghargai dan mengakui keragaman dan
perbedaan.
D. IMPLEMENTASI PENDEKATAN MULTICULTURAL
Dalam rangka pemenuhan kewajiban mendidik, mengajar,
melatih, mengarahkan, membimbing, menilai dan mengevaluasi, maka prasarat utama
yang harus dimiliki guru adalah kemampuan dalam membangun model pembelajaran
yang efektif, inovatif dan menyenangkan namun tetap relevan dengan realita di
lingkungan masyarakat. Pendekatan integrated learning dan cooperative
learning adalah beberapa model pendekatan yang efektif dalam memasukkan
pendidikan multikultural ke dalam PKn di kelas. Beberapa poin penting yang
harus dilakukan dalam memformulasikan pendidikan multikultural dalam PKn yang
bersifat mudah dan efektif yaitu:
1.
Guru harus merencanakan strategi
pembelajaran yang akan dipakai dalam kelas. Slavin (1984) mengatakan bahwa cooperative
learning adalah suatu model pembelajaran di mana siswa belajar dan bekerja
dalam kelompok-kelompok kecil secara kolaboratif anggotanya terdiri dari 6
orang dengan struktur kelompoknya yang bersifat heterogen (Etin Solihatin dan
Raharjo, 2007:4). Jika yang dipakai adalah model cooperative learning, makastrategi
ini digunakan untuk menandai adanya perkembangan kemampuan siswa dalam belajar
bersama-sama mensosialisasikan konsep dan nilai budaya lokal dari daerahnya
dalam komunitas belajar bersama teman. Dalam konteks belajar dengan pendekatan
multikultural, penggunaan strategi cooperative learning, diharapkan
mampu meningkatkan kadar partisipasi siswa dalam memberikan apresiasi terhadap
nilai-nilai lokal serta membangun cara pandang kebangsaan. Dari kemampuan ini,
siswa memiliki keterampilan mengembangkan kecakapan hidup dalam menghormati
budaya lain, toleransi terhadap perbedaan, akomodatif, terbuka dan jujur dalam
berinteraksi dengan teman (orang lain) yang berbeda suku, agama etnis dan
budayanya, memiliki empati yang tinggi terhadap perbedaan budaya lain, dan
mampu mengelola konflik dengan tanpa kekerasan (conflict non violent).
2.
Pembelajaran multikultural yang
dilaksanakan di kelas oleh siswa bisa dimulai dari hal/perbuatan yang
kecil namun penuh makna (meaningfull). Siswa dan guru bisa memulainya
bersama dengan melakukan tindakan nyata di kelas yang menunjukkan keterampilan
multikultural. Maksudnya adalah sikap yang ditunjukkan karena kesadaran
kultural kemudian diimplementasikan dalam suatu tindakan dalam format
kemajemukan. Secara praktis bisa dicontohkan yaitu:
i.
Di awal atau akhir jam belajar
guru memulai dengan menyuruh menyiapkan kelas kepada ketua kelas dengan
menggunakan bahasa daerah tertentu. Penggunaan bahasa daerah dalam mengawali
kelas ini bisa dilakukan setiap pertemuan palajaran PKn (misalnya) di kelas
tersebut. Misalnya minggu pertama menyiapkan kelas dengan bahasa Sunda, minggu
depan bahasa Minang, dst. Ini dimaksudkan agar guru dan antar siswa minimal
mengetahui tentang bahasa daerah suatu masyarakat Indonesia, sebagai kekayaan
budaya nasional. Kesadaran multikultural inilah yang mesti dikembangkan dalam
kehidupan siswa, walaupun dengan cara yang sederhana.
ii.
Sudah menjadi tradisi di sekolah
mayoritas siswanya adalah beragama tertentu karena kuantitasnya banyak, yang
menjadi ketua kelas adalah agama mayoritas tadi. Ketua kelas bertugas
menyiapkan di awal masuk dan pulang sekolah. Namun tradisi itu pada kondisi
tertentu bisa diubah oleh guru. Maksudnya bisa saja guru mengintruksikan kepada
siswa yang beragama minoritas untuk menyiapkan memimpin doa di kelas. Penulis
pernah mencoba treatment ini, ketika menyuruh siswa yang beragama
Katolik untuk memimpin doa di kelasnya, namun secara reaktif siswa lain yang
mayoritas terkejut. Kenapa yang disuruh menyiapkan (memimpin doa) adalah agama
minoritas. Itulah pertanyaan yang muncul dari mulut polos para siswa. Sebagai
pendidik ini bagian dari pembelajaran, respon siswa seperti itu terjadi karena
mereka belum terbiasa menerima perbedaan dan memposisikan “yang lain yang
berbeda dengan kami” adalah sejajar dan memiliki hak yang sama. Dengan metode
sederhana seperti di atas diharapkan akan terbangun karakter inklusif, toleran
dan plural dalam diri siswa dan guru. Dari pendekatan sederhana tapi penuh
makna (meaningfull approach) ini, melahirkan sikap hidup yang
senantiasa menerima perbedaan dalam kehidupan.
iii.
Jika menggunakan pendekatan cooperative
learning dalam pembelajaran PKn di kelas, maka guru bisa saja memberikan
tugas misalnya kepada siswa yang telah dibagi dalam beberapa kelompok.
Terpenting di sini yaitu pembagian kelompok tersebut harus dilakukan oleh guru
dengan mempertimbangkan kemajemukan/multikulturalitas siswa tersebut. Umpamanya
kelompok dibagi atas pertimbangan asal daerah, suku, agama,, gender dan
kemampuan siswa. Siswa tidak boleh dimasukkan dalam kelompok berisikan siswa
yang cenderung homogen (tanpa perbedaan agama, budaya, daerah, bahasa, gender
dan kemampuan). Jadi dalam satu kelompok terdiri dari siswa yang berbeda secara
multikultural. Agar terjadi interaksi antar pribadi yang berlatar berbeda
secara horizontal. Ketika mereka telah berinteraksi diharapkan tumbuh sikap
toleran, inklusif dan pluralis dalam diri siswa.
iv.
Jika menggunakan pendekatan integrated
learning dalam pembelajaran PKn di kelas, maka guru harus memasukkan
muatan pendidikan multikultural ke dalam materi-materi pembahasan PKn yang
memang relevan. Seperti ketika belajar materi Kewarganegaraan, HAM dan sistem
politik di kelas X. Materi budaya demokrasi & masyarakat madani dan budaya
politik di kelas XI.. Di kelas XII materi yang relevan yaitu Pancasila sebagai
ideologi terbuka kemudian globalisasi. Contoh-contoh materi dalam PKn tersebut
bisa diintegrasikan dengan pendidikan multikultural yang sifatnya integral
dalam pembahasannya. Ini dilakukan agar materi PKn tersebut tidak an sich
dimaknai sebagai PKn itu sendiri namun lebih terbuka dan koheren dengan muatan
lain (pendidikan multikultural). Siswa dan guru juga tidak bosan dalam
pembelajaran di kelas, karena selalu merelevansikannya dengan muatan
multikulturalisme, tentu dengan menggunakan media/alat (LCD/OHP) yang mudah dan
efektif dalam pengunaannya. Guru atau siswa bisa juga menghadirkan/membawa
contoh-contoh alat peraga yang berkaitan dengan materi PKn tertentu tapi juga
relevan dengan konten pendidikan multikultural. Seperti siswa disuruh membawa
tayangan (dalam bentuk CD atau lainnya) cerita budaya daerah tertentu. Kemudian
dikaitkan dengan materi budaya politik Indonesia atau masyarakat madani. Bisa
juga siswa diminta mengemukakan contoh (tentu dengan bukti fisik agar lebih
menarik) tradisi daerah, makanan daerah tertentu untuk dianalisis mengenai
eksistensi berbagai tradisi lokal tersebut di tengah arus globalisasi sekarang.
Menggagas pembelajaran PKn yang berbasis pendidikan
multikultural ini merupakan satu metode dan strategi sederhana, dalam rangka
menciptakan karakter anak bangsa yang bisa hidup dalam nuansa perbedaan. Menurut
Malik Fajar bahwa PKn sebagai wahana untuk mengembangkan kemampuan, watak dan
karakter warga negara yang demokratis dan bertanggungjawab (Nadiroh, dalam
Jurnal Kewarganegaraan, 2006:8). Hal ini terjadi karena salah satu tujuan PKn
adalah mebangun karakter warga negara yang demokratis (Cholisin, 2006).
Pendidikan demokrasi yang menjadi bagian dalam konten PKn akan tercapai jika
komponen-komponen sosio-kultural Indonesia sebagai bangsa, dipahami sebagai
kekayaan alam nusantara. Komponen-komponen sosio-kultural tadi diformulasikan
dalam bentuk pendidikan multikultural. Oleh guru sebagai mediator di kelas,
dikonstruksi sebuah pendekatan sederhana tapi penuh makna dalam PKn yaitu
berbasis multikultural. Pembelajaran PKn sekaligus berisikan pendidikan multikultural
bisa dan mudah dilaksanakan karena cirinya yang sederhana, bisa berulang
(kontinuitas) dan terjangkau (karena bisa dilakukan langsung di kelas oleh guru
bersama siswa). Dengan model sederhana ini diharapkan pembelajaran PKn akan
lebih bermakna bagi siswa dan tetap menjadi muatan pembelajaran strategis dalam
upaya membangun karakter bangsa (nation and character building).
BAB III
PENUTUP
3.1 KESIMPULAN
Pendekatan adalah
cara umum dalam memandang suatu permasalahan atau objek kajian, dalam hal ini
adalah pendekatan pembelajaran. Pendekatan pembelajaran sendiri memiliki arti
suatu sudut pandang tentang proses pembelajaran yang masih dalam arti
umum yang didalamnya dapat mewadahi, menguatkan, memberikan inspirasi
Proses interaksi
pembelajaran yang mampu meningkatkan hasil belajar pada siswa ialah bagaimana
cara guru melakukan pendekatan yang sesuai dengan karakter siswa,
kurikulum dan meteri pembelajaran. Sehingga seorang pendidik harus tahu
jenis-jenis pendekatan pembelajaran dan pemahamannya.
Dalam merancang
implementasi pendekatan pembelajaran, harus disesuaikan dengan perubahan
kurikulum yang sedang berlasung. Karena pendekatan akan lebih efektif dan
efisien ketika pendekatan tersebut lebih cepat mewujudkan tujuan pendidikan
sesuai kurikulum yang ada. Berikut adalah contoh rancangan dalam
mengimplementasikan pendekatan pembelajaran dikaitkan dengan pendekatan
saintifik (5M) dalam kurikulum 2013 yaitu : Pendekatan Inkuiri, Pendekatan
berbasis masalah, Pendekatan Berbasis Proyek, Pendekatan berorientasi pada
siswa.
3.2 SARAN
Dari makalah
yang singkat ini mudah-mudahan dapat bermanfaat bagi kita semua. Penulis
menyadari bahwa makalah ini jauh dari kata sempurna, masih banyak
kesalahan dari berbagai sisi, jadi penulis berharap kritik yang bersifat
membangun, untuk perbaikan dan kesempuraan dari makalah ini.
Selain itu penulis
menyarankan kepada pembaca agar memahami dan memperhatikan pendekatan
pembelajaran yang sesuai dengan perubahan kurikulum yang semakin berkembang
dalam mencapai tujuan pendidikan yang lebih baik
Tidak ada komentar:
Posting Komentar