Selasa, 24 Oktober 2017

Dr.Dirgantara Wicaksono, M.Pd "RENCANA PEMBELAJARAN BERTARAF BERINTERNASIONAL"

RENCANA PEMBELAJARAN BERTARAF BERINTERNASIONAL 


PENGERTIAN RSBI (RINTISAN SEKOLAH BERTARAF INTERNASIONAL)
Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI) adalah Sekolah Standar Nasional (SSN) yang menyiapkan peserta didik berdasarkan Standar Nasional Pendidikan (SNP) Indonesia dan bertaraf Internasional sehingga diharapkan lulusannya memiliki kemampuan daya saing internasional.

LANDASAN HUKUM
UU No. 20 Tahun 2003 ps 50
- UUNo. 32 Tahun 2004 : Pemerintahan Pusat dan Daerah
- UU No 33 Tahun 2004 : Kewenangan Pemerintah (Pusat) dan Kewenangan Provinsi  
   sebagai Daerah Otonom
- UU No. 25 Tahun 2000 : Program Pembangunan Nasional
- PP NoTahun 2005 : Standar Nasional Pendidikan (SNP) ps 61
- Permendiknas No. 22,23,24 Tahun 2006 : Standar Isi, SKL dan Implementasinya

TUJUAN PROGRAM RSBI
- Umum
a) Meningkatkan kualitas pendidikan nasional sesuai dengan amanat Tujuan Nasional              dalam Pembukaan UUD 1945, pasal 31 UUD 1945, UU No.20 tahun 2003 tentang                SISDIKNAS, PP No.19 tahun 2005 tentang SNP( Standar Nasional Pendidikan), dan UU      No.17 tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional yang              menetapkan Tahapan Skala Prioritas Utama dalam Rencana Pembangunan Jangka              Menengah ke-1 tahun 2005-2009 untuk meningkatkan kualitas dan akses masyarakat          terhadap pelayanan pendidikan.
b) Memberi peluang pada sekolah yang berpotensi untuk mencapai kualitas bertaraf                nasional dan internasional.
c) Menyiapkan lulusan yang mampu berperan aktif dalam masyarakat global.

- Khusus
Menyiapkan lulusan yang memiliki kompetensi yang tercantum di dalam Standar Kompetensi Lulusan yang diperkaya dengan standar kompetensi lulusan berciri internasiona.
RSBI/SBI adalah sekolah yang berbudaya Indonesia, karena Kurikulumnya ditujukan untuk Pencapaian indikator kinerja kunci minimal sebagai berikut:
1) menerapkan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP);
2) menerapkan sistem satuan kredit semester di SMA/SMK/MA/MAK;
3) memenuhi Standar Isi; dan
4) memenuhi Standar Kompetensi Lulusan.

Selain itu, keberhasilan tersebut juga ditandai dengan pencapaian indikator kinerja kunci tambahan sebagai berikut:
1) sistem administrasi akademik berbasis Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) di              mana setiap saat siswa bisa mengakses transkripnya masing-masing;
2) muatan mata pelajaran setara atau lebih tinggi dari muatan pelajaran yang sama pada          sekolah unggul dari salah satu negara anggota OECD (Organization for Economic Co- 
    operation and Development) dan/ atau negara maju lainnya yang mempunyai 
    keunggulan tertentu dalam bidang pendidikan; dan
3) menerapkan standar kelulusan sekolah/ madrasah yang lebih tinggi dari Standar   
    Kompetensi Lulusan.

Adalah tidak benar kalau guru Bahasa Indonesia harus menggunakan Bahasa Inggris dalam memberikan pengantar pelajarannya, walaupun hal tersebut boleh saja dilakukan, tetapi penggunaan Bahasa Inggris adalah untuk pembelajaran mata pelajaran kelompok sains, matematika, dan inti kejuruan saja, sebagaimana dalam Bagian Proses Pembelajaran RSBI/SBI dinyatakan sebagai berikut: ‘’Mutu setiap Sekolah/Madrasah Bertaraf Internasional dijamin dengan keberhasilan melaksanakan proses pembelajaran yang efektif dan efisien. Proses pembelajaran disesuaikan dengan bakat, minat, dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik. Keberhasilan tersebut ditandai dengan pencapaian indikator kinerja kunci minimal, yaitu memenuhi Standar Proses.’’ Selain itu, keberhasilan tersebut juga ditandai dengan pencapaian indikator kinerja kunci tambahan sebagai berikut:
a) proses pembelajaran pada semua mata pelajaran menjadi teladan bagi                                 sekolah/madrasah lainnya dalam pengembangan akhlak mulia, budi pekerti luhur,                 kepribadian unggul, kepemimpinan, jiwa entrepreneural, jiwa patriot, dan jiwa   
    inovator
b) diperkaya dengan model proses pembelajaran sekolah unggul dari salah satu  
    negara anggota OECD dan/atau negara maju lainnya yang mempunyai                                 keunggulan tertentu dalam bidang pendidikan
c) menerapkan pembelajaran berbasis TIK pada semua mata pelajaran
d) pembelajaran mata pelajaran kelompok sains, matematika, dan inti kejuruan                         menggunakan bahasa Inggris, sementara pembelajaran mata pelajaran lainnya,                   kecuali pelajaran bahasa asing, harus menggunakan bahasa Indonesia; dan
e) pembelajaran dengan bahasa Inggris untuk mata pelajaran kelompok sains dan                     matematika untuk SD/MI baru dapat dimulai pada Kelas IV.

PELAKSANAAN KURIKULUM DAN PROSES PEMBELAJARAN RSBI MENGGUNAKAN ASAS-ASAS SEBAGAI BERIKUT:
1) Menggunakan kurikulum yang berlaku secara nasional dengan mengadabtasi kurikulum      sekolah di Negara lain.
2) Mengajarkan bahasa asing, terutama penggunaan bahasa Inggris, secara terintegrasi 
    dengan mata pelajaran lainnya. Metode pengajaran dwi bahasa ini dapat dilaksanakan        dengan 2 kategori yakni Subtractive Bilingualism (beri penjelasan oleh penulis) dan              Additive Bilingualism, yang menekankan pendekatan Dual Language.
3) Pengajaran dengan pendekatan Dual Language menekankan perbedaan adanya  
    Bahasa Akademis dan Bahasa Sosial yang pengaturan bahasa pengantarnya dapat  
    dialokasikan berdasarkan Subjek maupun Waktu (beri penjelasan oleh penulis).
4) Menekankan keseimbangan aspek perkembangan anak meliputi aspek kognitif   
    (intelektual), aspek sosial dan emosional, dan aspek fisik.
5)  Mengintegrasikan kecerdasan majemuk (Multiple Intelligence) termasuk Emotional  
     Intelligence dan Spiritual Intelligence ke dalam kurikulum.
6)  Mengembangkan kurikulum terpadu yang berorientasi pada materi, kompetensi, nilai            dan sikap serta prilaku (kepribadian ).
7)  Mengarahkan siswa untuk mampu berpikir kritis, kreatif dan analitis , memiliki                       kemampuan belajar (learning how to learn) serta mampu mengambil keputusan dalam   
     belajar. Penyusunan kurikulum ini didasarkan prinsip ”Understanding by Design” yang           menekankan pemahaman jangka panjang (”Enduring Understanding”). Pemahaman             (Understanding) dilihat dari 6 aspek: Explain, Interpret, Apply, Perspective, Empathy,             Self Knowledge.
8)  Kurikulum tingkatan satuan pendidikan dapat menggunakan sistem paket dan kredit             semester.
9)  Dapat memberikan program magang untuk siswa SMA, MA dan SMK.
10) Menekankan kemampuan pemanfaatan Information and Communication Technology  
      (ICT) yang terintegrasi dalam setiap mata pelajaran.

PENJAMINAN MUTU PROSES PEMBELAJARAN
Terdapat pergeseran paradigma pendidikan dari mengajar ke membelajarkan. Mengajar lebih menekankan pada kegiatan guru dalam mentransformasikan ilmu atau materi kepada siswa, dan siswa hanya sebagai pendengar, sedangkan pembelajaran lebih menekankan pada proses kegiatan siswa yang aktif mencari, menemukan sekaligus mempresentasikan temuan belajarnya. Sekolah bertaraf Internasional diharapkan menerapkan azas-azas pembelajaran aktif yang mengakses 5 pilar pendidikan (religious awareness, learning to know, learning to do, learning to be, and learning how to live together) dalam pengelolaan pembelajaran dengan rincian seperti berikut:
1) Pendekatan yang digunakan berfokus pada siswa dengan merangsang rasa ingin                 tahu dan motivasi intrinsik serta partisipasi siswa (inquiry, investigation) sehingga                 ide pembelajaran dapat datang dari siswa.
2) Siswa membangun pengetahuannya sendiri, bukan dibentuk oleh orang lain                         (constructivism).
3)  Guru berperan sebagai fasilitator, sehingga tercipta interaksi Guru-siswa, siswa                     dengan siswa, siswa dengan guru, terjadi komunikasi multi arah, sikap guru                           terhadap siswa harus menimbulkan rasa nyaman, penyusunan kelas dapat dibuat                 dengan 2 macam pengelompokan seperti kelas dengan 1 kelompok umur (Single                 Age), Kelas dengan 2 kelompok umur (Multiage)
4) Pembelajaran melayani semua anak termasuk anak dengan kebutuhan khusus (                   special needs ) secara terbatas (program inklusi), pendekatan yang digunakan                     menekankan adanya keragaman kompetensi, intelligence, agama, minat. 
5) Menekankan pada pemahaman siswa bukan hafalan dan sekedar mengejar                         target pembelajaran maupun bahan ujian, tetapi berorientasi pada aktivitas dan                     proses.
6) Mengembangkan model-mdel pembelajaran yang konstruktif, inovatif seperti                         cooperative learning, pembelajaran berbasis masalah, dan contextual teaching                     and learning.
7) Memanfaatkan berbagai sumber belajar (lingkungan, nara sumber, dan                                 penunjang belajar lainnya) tidak hanya dari guru.
8) Materi pembelajaran disesuaikan dengan tingkat perkembangan siswa.
9) Memberikan kesempatan pada siswa untuk memilih (intelligent choice) seperti                       dalam pemilihan proyek yang akan dikerjakan, gaya belajar, cara menyelesaikan                   soal, minat dalam batasan tertentu. Dalam mengakomodasi keragaman,                               pengajaran materi dapat diberikan berbeda-beda, umumnya 3 tingkatan/macam,                   sesuai dengan kebutuhan siswa. Praktek yang umumnya disebut Differentiated                     Instruction ini menyebabkan tugas yang diberikan kepada siswa juga dapat                           berbeda yang antara lain berupa Tiered Assignments serta tehnik diferensiasi                       lainnya. Untuk siswa berkebutuhan khusus (special needs) dapat dibuatkan                           program pembelajaran individu (Individual Educational Program/IEP)
10)Siklus pembelajaran dapat dimulai dari tahapan Exposure, Mini Lesson,                                Workshop dan Assessment. Siklus ini dapat berulang di setiap tahap sesuai                           dengan kebutuhan siswa.
11) Menciptakan dan memelihara berbagai lingkungan yang kondusif untuk siswa                       belajar seperti; penataan ruangan, materi pembelajaran, rasio guru siswa 1:12                       sampai dengan 1:24.

PENJAMINAN MUTU KOMPETENSI LULUSAN
1) Standar kelulusan menekankan pada semua aspek seperti spiritual, norma, sosial,                emosional selain akademik.
2) Standar akademik menekankan pada pemahaman materi belajar, bukan pada                       pengumpulan nilai, yang harus didukung oleh berbagai bukti otentik
3) Kelulusan berdasarkan pada analisa individu yang menggunakan pertimbangan                    profesional guru dan sekolah
4) Kualitas lulusan dipersiapkan mampu bersaing secara global baik dari segi pengetahuan       maupun kompetensi berkomunikasi dengan tetap mempertahankan budaya Indonesia.
5) Terdapat standar minimal pendukung yang harus dipenuhi siswa yang dapat berupa;             projek dan makalah/tulisan, Community Service project (pengabdian pada                             masyarakat),program magang untuk SMA,MA dan SMK, serta kehadiran.
6)  Kualitas lulusan yang dihasilkan dapat diterima di sekolah-sekolah Internasional di               dunia berdasarkan: kemampuan bahasa Inggris yang dimiliki siswa, tipe laporan standar       internasional, benchmark standar Internasional, dapat bekerjasama dengan lembaga           internasional.

PENJAMINAN MUTU KETENAGAAN
1)  Tenaga pendidik memiliki kualifikasi minimal S1, mampu berbahasa Inggris, memiliki             kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi social dan kompetensi             professional.
2)  Seleksi tenaga pendidik dilakukan secara professional oleh tenaga ahli dalam bidang  
     sumber daya manusia (Human Resources Departement) yang dapat dilakukan dengan         tahapan: wawancara awal,Class observation, Behavioral interview ,Behavioral                       test,English test (TOEFL dan conversation), Micro teaching and discussion,Tes                     kesehatan. 
3)  Performance management dilakukan secara berkelanjutan dan berkesinambungan               sebagai dasar untuk pengembangan SDM lebih lanjut dengan instrumen khusus                   berdasarkan standar Teaching Effectiveness.
4)  Pengelolaan Sumber Daya Manusia berdasarkan Kompetensi (Competency-based 
     Human Resorces System)

PENJAMINAN MUTU SARANA DAN PRASARANA
Sarana dan Prasarana yang dapat memenuhi kebutuhan belajar siswa berdasarkan cara kerja otak dan standar internasional, terdiri dari ruangan beserta kelengkapannya, yaitu:
1) Ruang Belajar yang kondusif meliputi luas , pencahayaan, temperatur, tingkat                       kebisingan.
2) Tempat bermain
3) Laboratorium
4) Perpustakaan
5) Fasilitas olah raga
6) Fasilitas kesenian
7) Ruang Guru
8) Ruang konseling
9)   Ruang pertemuan siswa
10) Ruang Serbaguna
11) Kantin
12) Klinik 
13) Ruang Ibadah
14) Ruang kepala sekolah dan administrasi
15) Fasilitas internet di setiap ruang kelas dan WiFi di seluruh sekolah untuk                               memudahkan akses internet. Setiap siswa tingkatan SMA /SMK menggunakan                     laptop secara individu dalam mengerjakan tugas sekolah.
16) Ruang terapi untuk special needs
17) Toilet
18) Ruang khusus lainnya sesuai dengan kebutuhan

PENJAMINAN MUTU PEMBIAYAAN
1) Sumber dana diperoleh dari dana investasi pemilik dan pembayaran uang sekolah siswa
    untuk jenis sekolah swasta; serta dapat bervariasi dari sumber lainnya,pemerintah dan 
    masyarakat untuk jenis sekolah negeri. 
2) Pengalokasian dana dikategorikan ke dalam pengeluaran operasional rutin dan non rutin
     pengeluaran investasi untuk pengembangan sekolah.
3) Pengelolaan keuangan dilakukan secara profesional: transparan, efisien, akuntabel 
    dengan diperiksa oleh akuntan publik

PENJAMINAN MUTU PENILAIAN
1) Tujuan utama penilaian untuk memantau perkembangan hasil belajar siswa secara individu dan berkesinambungan bukan untuk mengkategorikan siswa sehingga tidak membandingkan prestasi antar siswa.
2) Penilaian dilakukan dengan menggunakan prinsip Pedoman Acuan Kriteria (PAK) dengan memperhatikan aspek: otentik yang artinya penilaian relevan sesuai dengan potensi masing-masing siswa dan relevan dengan dunia nyata. Keseimbangan dengan memperhatikan produk, proses dan progres.
3) Penilaian dilakukan sesuai dengan kriteria belajar yaitu kriteria produk, kriteria proses dan kriteria progress. Kriteria produk berfokus pada apa yang siswa tahu dan bisa lakukan pada saat tertentu. Kriteria proses berfokus pada bagaimana siswa mencapai perfomansi bukan pada hasil akhir. Kriteria progres berfokus pada tingkat pencapaian kinerja siswa yang dilihat melalui portofolio.
4) Penilaian dilakukan dengan mengacu pada tujuan pembelajaran bukan dengan prestasi siswa lainnya.
5)  Penilaian dilakukan secara berkesinambungan dengan menggunakan berbagai teknik dan instrumen seperti rubrik, observasi harian, performance task dan tes tertulis (paper and pencil).
6) Pembelajaran didasarkan atas pencapaian ketuntasan belajar siswa (mastery learning) maka laporan yang dikeluarkan sekolah dapat berupa: Laporan Narasi,Laporan Perkembangan Siswa per individu yang diterima secara internasional.

1 komentar:

  1. Menurut saya blog anda sudah sangat bermanfaat. Tapi apakah model ini bisa lebih memudahkan guru dalam mencapai tujuan pembelajaran? Terimakasih :)

    BalasHapus