RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP)
BERDASARKAN MODEL INTRUCTIONAL DESIGN: Robert Gagne’s
ROBERT GAGNE'S:
Gagne adalah seorang psikolog pendidikan berkebangsaan amerika yang terkenal dengan penemuannya berupa condition of learning. Gagne pelopor dalam instruksi pembelajaran yang dipraktekkannya dalam training pilot AU Amerika. Ia kemudian mengembangkan konsep terpakai dari teori instruksionalnya untuk mendisain pelatihan berbasis komputer dan belajar berbasis multi media. Teori Gagne banyak dipakai untuk mendisain software instruksional.
Gagne disebut sebagai Modern Neobehaviouris mendorong guru untuk merencanakan instruksioanal pembelajaran agar suasana dan gaya belajar dapat dimodifikasi. Ketrampilan paling rendah menjadi dasar bagi pembentukan kemampuan yang lebih tinggi dalam hierarki ketrampilan intelektual. Guru harus mengetahui kemampuan dasar yang harus disiapkan. Belajar dimulai dari hal yang paling sederhana dilanjutnkan pada yang lebih kompleks ( belajar SR, rangkaian SR, asosiasi verbal, diskriminasi, dan belajar konsep) sampai pada tipe belajar yang lebih tinggi (belajar aturan dan pemecahan masalah). Praktiknya gaya belajar tersebut tetap mengacu pada asosiasi stimulus respon.Gagne disebut sebagai Modern Neobehaviouris mendorong guru untuk merencanakan instruksioanal pembelajaran agar suasana dan gaya belajar dapat dimodifikasi. Ketrampilan paling rendah menjadi dasar bagi pembentukan kemampuan yang lebih tinggi dalam hierarki ketrampilan intelektual. Guru harus mengetahui kemampuan dasar yang harus disiapkan. Belajar dimulai dari hal yang paling sederhana dilanjutnkan pada yang lebih kompleks ( belajar SR, rangkaian SR, asosiasi verbal, diskriminasi, dan belajar konsep) sampai pada tipe belajar yang lebih tinggi (belajar aturan dan pemecahan masalah). Praktiknya gaya belajar tersebut tetap mengacu pada asosiasi stimulus respon.
Robert Gagne menciptakan sembilan langkah proses yang disebut tahapan dari proses instruksional, yang berhubungan dengan kondisi pembelajaran. Berikut ini adalah bagan dari sembilan langkah instruksi dari Robert Gagné ID model :
Gagne adalah seorang psikolog pendidikan berkebangsaan amerika yang terkenal dengan penemuannya berupa condition of learning. Gagne pelopor dalam instruksi pembelajaran yang dipraktekkannya dalam training pilot AU Amerika. Ia kemudian mengembangkan konsep terpakai dari teori instruksionalnya untuk mendisain pelatihan berbasis komputer dan belajar berbasis multi media. Teori Gagne banyak dipakai untuk mendisain software instruksional.
Gagne disebut sebagai Modern Neobehaviouris mendorong guru untuk merencanakan instruksioanal pembelajaran agar suasana dan gaya belajar dapat dimodifikasi. Ketrampilan paling rendah menjadi dasar bagi pembentukan kemampuan yang lebih tinggi dalam hierarki ketrampilan intelektual. Guru harus mengetahui kemampuan dasar yang harus disiapkan. Belajar dimulai dari hal yang paling sederhana dilanjutnkan pada yang lebih kompleks ( belajar SR, rangkaian SR, asosiasi verbal, diskriminasi, dan belajar konsep) sampai pada tipe belajar yang lebih tinggi (belajar aturan dan pemecahan masalah). Praktiknya gaya belajar tersebut tetap mengacu pada asosiasi stimulus respon.Gagne disebut sebagai Modern Neobehaviouris mendorong guru untuk merencanakan instruksioanal pembelajaran agar suasana dan gaya belajar dapat dimodifikasi. Ketrampilan paling rendah menjadi dasar bagi pembentukan kemampuan yang lebih tinggi dalam hierarki ketrampilan intelektual. Guru harus mengetahui kemampuan dasar yang harus disiapkan. Belajar dimulai dari hal yang paling sederhana dilanjutnkan pada yang lebih kompleks ( belajar SR, rangkaian SR, asosiasi verbal, diskriminasi, dan belajar konsep) sampai pada tipe belajar yang lebih tinggi (belajar aturan dan pemecahan masalah). Praktiknya gaya belajar tersebut tetap mengacu pada asosiasi stimulus respon.
Robert Gagne menciptakan sembilan langkah proses yang disebut tahapan dari proses instruksional, yang berhubungan dengan kondisi pembelajaran. Berikut ini adalah bagan dari sembilan langkah instruksi dari Robert Gagné ID model :
Berikut adalah tabel yang menunjukkan tahapan proses instruksional dan proses mental dari Robert Gagne’s ID Model:
1. Gain attention (Menarik perhatian)
Perlunya menimbulkan minat
dan perhatian siswa dengan mengemukakan sesuatu yang baru, aneh kontradiksi
atau kompleks. Diharapkan siswa memiliki kepekaan indera untuk
merespon dengan cepat stimulus yang diberikan. Ketika menarik perhatian siswa,
pembimbing atau guru dapat memberikan gerakan isyarat atau merubah mimik
muka dan suara tiba-tiba.
Contoh: mengenalkan berbagai bentuk keberagaman suku, bangsa,
sosial, dan budaya di
Indonesia dengan cara
mengajak siswa memakai sebuah baju adat daerah dan
menarikan sebuah daerah
tersebut. Hari sebelumnya, Guru meminta
siswa
memakai pakaian adat daerah. Ketika kegiatan ini dilaksanakan biarkan
siswa
memperlihatkan kemampuan menarikan sebuah
tari daerah tersebut. Kenalkan
tari- tarian tersebut dari berbagai daerah melalui penemuan siswa yang
sudah
dilakukan oleh siswa/i lainnya dan cocokan dengan buku tentang keberagaman
suku, bangsa, sosial, dan budaya di Indonesia.
Ajak siswa mendengarkan lagu-
lagu daerah. Ajak pula siswa menonton film dokumenter tentang keberagaman
suku, bangsa, sosial, dan budaya di Indonesia.
2. Menyampaikan tujuan pembelajaran (informing learners of the
objective)
Perlunya
mengatakan pada siswa apa yang akan diperoleh atau dikuasai setelah mengikuti
pelajaran, sehingga siswa dapat mengetahui kemampuan yang dikuasai setelah
mengikuti pelajaran. Menyampaikan tujuan pembelajaran bisa menjadi motivasi siswa dalam mengikuti kegiatan pembelajaran.
Contoh : Kegiatan diawali dengan tanya jawab, untuk
mengetahui sejauh mana
kemampuan siswa, dilanjutkan menyampaikan tujuan pembelajaran. Sebelum
kegiatan berlangsung, guru mengadakan tanya jawab dengan siswa. Seperti
mengatakan “Siapa yang pernah ke Taman
Mini Indonesia Indah (TMII)?”
“Seperti apa ya TMII itu?” “Apa saja isinya?” “Siapa yang mau ke TMII?”
“Nanti teman-teman akan melihat didalam TMII,
juga mengetahui isi
keberagaman suku, bangsa, sosial, dan budaya di Indonesia !”
3. Mengingatkan konsep/prinsip yang telah
dipelajari (Stimulating recall of prior learning)
Merangsang timbulnya ingatan tentang
pengetahuan/keterampilan yang telah dipelajari yang menjadi prasyarat untuk mempelajari materi
yang baru.
Contoh: Di pertemuan berikutnya, untuk
mengingat kembali pengetahuan tentang
keberagaman suku, bangsa, sosial, dan budaya di Indonesia. Ajak siswa
mengklasifikasikan gambar yang disediakan. Mengklasifikasikan gambar ke
dalam tabel macam-macam tari daerah, dan suku Daerah.
4. Menyampaikan materi pembelajaran (Presenting the stimulus)
Penyampaian materi pembelajaran dengan
menggunakan contoh, penekanan baik secara verbal maupun “features” tertentu.
Contoh: Guru
menyampaikan materi “keberagaman
suku, bangsa, sosial, dan budaya di
Indonesia dengan mencontohkan tari daerah, dan menampilkan
contoh gambar
rumah adat dari berbagai daerah. Guru juga mengajak siswa untuk
mempraktekan tari daerah tersebut.
5. Memberikan bimbingan belajaran (Providing
“Learning Guidance”)
Bimbingan diberikan melalui
persyaratan-persyaratan yang membimbing proses/alur berpikir siswa, agar
memiliki pemahaman yang lebih baik. Berikan contoh-contoh, gambar-gambar
sehingga siswa siswa dapat lebih memahami materi yang disampaikan.
Contoh: guru menampilkan sebuah video tentang keberagaman bangsa, sosial, dan
budaya di Indonesia Guru
menuliskan kata “keberagaman” di tengah papan.
Ajukan pertanyaan misalnya “Kalau
mendengar kata keberagaman, apa yang
terlintas di pikiranmu?” Biarkan siswa menjawab dan tuliskan /gambarkan
jawaban siswa. Tidak ada jawaban salah. Arahkan siswa ke pada tema kali
ini.
6. Memperoleh unjuk kerja siswa (eliciting performance)
Siswa diminta untuk
menunjukkan apa yang telah dipelajari atau untuk menunjukkan penguasaannya
terhadap materi.
Contoh: Di pertemuan berikutnya, kegiatan berupa membuat
gambar peta, dan guru
dapat memancing siswa bercerita tentang keberagaman melalui gambar
yang siswa buat.
7. Memberikan balikan (Providing feedback)
Siswa diberi tahu sejauh
mana ketepatan unjuk kerjanya (performance)
Contoh : Berkaitan dengan poin sebelumnya yaitu memperoleh
unjuk kerja siswa, guru
dapat memberikan balikan atas hasil karya yang siswa buat. Misalnya,
ketika
siswa menunjukkan gambar peta buatannya, guru dapat mengajukan pujian
atau
mengajukan beberapa pertanyaan yang
memancing siswa menceritakan hasil
karyanya.
8. Menilai hasil belajar (Assessing performance)
Memberikan tes atau tugas untuk menilai sejauh
mana siswa menguasai tujuan pembelajaran
Contoh : Minta siswa
memilih sebuah kartu kata atau gambar berkaitan dengan
keberagaman bangsa, sosial, dan budaya di Indonesia (siapkan kata atau gambar
yang berbeda sejumlah siswa).
Misalnya gambar rumah adat, tari daerah, dan
budaya di Indonesia Ajak siswa bercerita di depan kelas sekitar 1-2 menit
mengenai kata atau gambar
tersebut. Guru dapat merekam cerita siswa tersebut
dan memutarnya kembali setelah siswa selesai bercerita. Ajak siswa
mendengarkan suaranya sendiri. Kegiatan ini juga mengajak siswa lainnya
belajar menghargai temannya yang sedang bercerita.
9. Memperkuat retensi dan transfer belajar (Enhancing retention
and transfer)
Merangsang kemampuan mengingat-ingat dan
mentransfer dengan memberikan rangkuman, mengadakan review atau mempraktekkan
apa yang telah terjadi. Diharapkan nantinya siswa dapat mentransfer atau
menggunakan pengetahuan, keahlian dan strategi ketika menghadapi masalah dan situasi baru.
Contoh : Ajak siswa membaca/melihat gambar/mendengar guru
membacakan koran
anak tentang ragam Indonesia. Ajak siswa kembali mengingat tema
keberagaman
budaya bangsaku dengan mengajak yang
mencerminkan sikap
persatuan dan kesatuan dalam
perbedaan di lingkungan sekolah secara
terstruktur. dan jadikan ini proyek berkelanjutan.
Setelah di proses pada Model Robert Gagne’s , maka dituangkan menjadi RPP
RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
(RPP)
Satuan Pendidikan : SD Negeri
Kelas/
Semester : IV/ 1 (Satu)
Tema Tema : Indahnya Kebersamaan
Sub
tema
:Keragaman Budaya Bangsaku
Pembelajaran
Ke : 1
Fokus
Pembelajaran :Bahasa Indonesia, PPKN, PJOK
Alokasi
Waktu : 4 x
Pertemuan (1 x 35 Menit)
A. Kompetensi
Inti (KI)
1. Menerima dan menjalankan
ajaran agama yang dianutnya.
2. Menunjukkan perilaku jujur, disiplin, tanggung jawab, santun,
peduli, dan percaya diri
dalam berinteraksi dengan keluarga, teman, guru dan tetangga.
3. Memahami pengetahuan faktual dengan cara mengamati (mendengar,
melihat, membaca)
dan menanya berdasarkan rasa ingin tahu tentang dirinya,
makhluk ciptaan Tuhan
dan kegiatannya, dan benda-benda yang
dijumpainya di rumah dan di sekolah.
4. Menyajikan pengetahuan faktual dalam bahasa yang jelas,
sistematis dan logis, dalam
karya yang estetis, dalam gerakan yang mencerminkan anak sehat,
dan dalam tindakan
yang mencerminkan perilaku anak beriman dan
berakhlak mulia.
B. Kompetensi
Dasar dan Indikator
Bahasa Indonesia
Kompetensi
Dasar
3.1. Menunjukkan
gagasan pokok dan gagasan pendukung yang diperoleh dari teks lisan,
tulis, atau
visual.
4.1 Menata
informasi yang didapat dari teks berdasarkan keterhubungan antar gagasan
ke dalam kerangka tulis.
Indikator
3.1.1
Menemukan gagasan pokok dan gagas anpendukung yang diperoleh dari teks tulis.
4.1.1 Menyajikan gagasan pokok dan gagasan pendukung yang diperoleh
dari teks tulis
dalam bentuk diagram.
PPKN
Kompetensi
Dasar
3.4 Memahami berbagai
bentuk keberagaman suku, bangsa, sosial, dan budaya di
Indonesia yang terikat persatuan dan
kesatuan.
4.4 Bekerja sama dalam berbagai bentuk keberagaman
suku, bangsa, sosial, dan budaya
di Indonesia yang terikat
persatuan dan kesatuan.
Indikator
3.4.1 Menjelaskan rencana kegiatan yang mencerminkan
sikap persatuan dan kesatuan
dalam keberagaman agama.
4.4.1 Membuat rencana kegiatan yang mencerminkan sikap persatuan dan kesatuan
dalam
keberagaman agama.
PJOK
Kompetensi Dasar
3.1 Memahami prosedur variasi pola gerak
dasar lokomotor, non-lokomotor, dan
manipulatif sesuai dengan konsep tubuh, ruang, usaha, dan keterhubungan
dalam
permainan bola besar sederhana dan atau tradisional.
4.1 Mempraktikkan prosedur variasi pola gerak dasar lokomotor, non-lokomotor,
dan
manipulatif sesuai dengan konsep tubuh, ruang, usaha, dan keterhubungan dalam
permainan bola besar sederhana dan atau tradisional
Indikator
3.3.1 Menjelaskan prosedur variasi pola gerak dasar
jalan, lari, lompat melalui permainan
Benteng-bentengan dan gobak sodor.
4.3.1 Mempraktikkan prosedur variasi pola gerak dasar jalan, lari, lompat
melalui
permainan benteng-bentengan dan gobak sodor.
C.
Tujuan Pembelajaran
-
Dengan membaca teks tentang suku Minang, siswa mampu menemukan
gagasan pokok dan gagasan pendukung yang
diperoleh dari teks tulis tentang keragaman sosial dan
budaya suku Minang secara
dengan benar.
-
Dengan membaca teks tentang suku Minang, siswa
mampu menyajikan gagasan pokok dan gagasan pendukung yang diperoleh dari
teks tulis tentang keragaman sosial dan budaya suku Minang dengan benar.
- Setelah
membaca teks tentang suku Minang, siswa mampu menjelaskan rencana
Kegiatan yang mencerminkan sikap persatuan
dan kesatuan dalam perbedaan di lingkungan sekolah dengan
Buatlah rencana kegiatan yang mencerminkan sikap persatuan dan kesatuan dalam perbedaan
dilingkungan sekolah secara terstruktur.
-
Setelah membaca teks tentang suku Minang, siswa mampu
membuat rencana kegiatan yang mencerminkan sikap
persatuan dan kesatuan dalam perbedaan di lingkungan sekolah dengan Buatlah
rencana kegiatan yang mencerminkan sikap persatuan dan kesatuan dalam perbedaan di
lingkungan sekolah secara terstruktur.
-
Setelah berdiskusi dan mengamati peragaan dari guru,
siswa mampu menjelaskan prosedur variasi pola gerak dasar jalan, lari, lompat
melalui permainan
benteng-bentengan dan gobak sodor dengan teknik yang benar.
- Setelah
berdiskusi dan mengamati peragaan dari guru, siswa mampu mempraktikkan variasi pola gerak dasar jalan,
lari, lompat melalui permainan benteng-bentengan dan
gobak sodor dengan
teknik yang benar.
D. Materi Pembelajaran
1. Menulis gagasan pokok
2. Keberagaman suku, bangsa, sosial, dan budaya di
Indonesia yang terikat persatuan dan kesatuan.
3. Prosedur variasi pola gerak dasar jalan, lari, lompat melalui permainan benteng-bentengan
dan gobak sodor dengan teknik yang benar.
E. Metode dan Pendekatan Pembelajaran
E. Metode dan Pendekatan Pembelajaran
Metode :
tanya jawab, diskusi dan percobaan
Pendekatan : Saintifik (mengamati, menanya, mengumpulkan informasi,
eksperimen,
mengasosiasi/mengolah
informasi, dan mengkomunikasikan).
F. Langkah-langkah Kegiatan Pembelajaran
Kegiatan
|
Deskripsi Kegiatan
|
Alokasi Waktu
|
Pendahuluan
|
1.
Guru
membuka pelajaran dengan menyapa siswa dan menanyakan kabar mereka.
2.
Guru
meminta salah seorang siswa untuk memimpin doa
3.
Guru
melakukan apersepsi sebagai awal komunikasi guru sebelum melaksanakan
pembelajaran inti.
4.
Guru
memberi motivasi kepada siswa agar semangat dalam mengikuti pembelajaran yang
akan dilaksanakan.
5.
Siswa
mendengarkan penjelasan dari guru kegiatan yang akan dilakukan hari ini dan
apa tujuan yang akan dicapai dari kegiatan tersebut dengan bahasa yang
sederhana dan dapat dipahami.
|
20
Menit
|
Kegiatan Inti
|
1. Guru
menyampaikan bahwa warga yang baik
adalah warga yang mampu memahami dan
menghargai keragaman serta perbedaan
yang
ada di sekitar mereka, baik keragaman
sosial,
ekonomi, budaya, etnis, dan agama.
2. Guru meminta siswa
membaca teks tentang suku
Minang.
3. Siswa menemukan dan menuliskan gagasan
pokok
dan gagasan pendukung untuk setiap
paragraf pada
diagram yang terdapat dalam buku siswa
4. Siswa menuliskan kesimpulan tentang
perbedaan
gagasan pokok dan gagasan pendukung di
buku
siswa.
5. Siswa membuat rencana kegiatan yang
mencerminkan sikap persatuan dan
kesatuan
dalam perbedaan dilingkungan sekolah.
6. Siswa mendiskusikan secara berkelompok
tentang
permainan gobak sodor yang telah mereka
pelajari
sebelumnya.
7. Siswa menuliskan hasil diskusi pada kolam
yang
terdapat di buku siswa
8. Siswa mempraktikkan permainan benteng-
bentengan dan gobak sodor setelah
berdiskusi dan
mengamati penjelasan dari guru
khususnya untuk
keterampilan dasar,jalan,lari,dan
lompat
|
175
Menit
|
Penutup
|
1.
Siswa barsama-sama guru membuat rangkuman/ simpulan dari
kegiatan hari itu.
2.
Siswa melakukan perenungan dengan menjawab pertanyaan yang
terdapat dalam buku siswa
3.
Guru meminta salah seorang siswa untuk memimpin doa.
|
15
menit
|
F. Media, Alat, dan Sumber Belajar
-Media :
video, laptop, infocus
- Alat/bahan : perlengkapan simulasi pemilihan
umum.
- Sumber belajar : Buku siswa kelas 4 tematik tema indahnya
kebersamaan
Buku guru kel as 4 tematik tema indahnya kebersamaan
G. Penilaian
1.Teknik Penilaian
a.Penilaian
Sikap: Tekun, teliti, dan pantang menyerah
b.Penilaian
Pengetahuan :Pemahaman tentang suku Minang
c.Penilaian
Keterampilan: Praktik keterampilan dasar
jalan,lari,lompat
2. Bentuk
Instrumen Penilaian
a. Lembar Penilaian
Sikap
|
No
|
Nama Peserta Didik
|
Sikap
|
|||||||||||
|
Cermat
|
Teliti
|
Tanggungjawab
|
|||||||||||
|
1
|
2
|
3
|
4
|
1
|
2
|
3
|
4
|
1
|
2
|
3
|
4
|
||
|
1.
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
2.
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
3.
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Keterangan
:
1:tidak pernah
ditunjukkan; 2: kadang-kadang ditunjukkan; 3: sering ditunjukkan; 4:selalu
ditunjukkan
Berilah dengan tanda centang (ü)
pada kolom yang sesuai.
|
|||||||||||||
menurut anda cocok untuk di kelas tinggi atau dikelas rendah? makasih :)
BalasHapusmenurut saya model pembelajaran yang saya gunakan ini cocok untuk di kelas tinggi maupun dikelas rendah. karena model pembelajaran ini sangat mudah di terapkan dan dipahami.
HapusAssalamualaikum saya mau bertanya apakah model ini mempunyaikendala saat penerapan di sekolah dasar? terima kasih wassalamualikum
BalasHapusMenurut saya blog anda sudah sangat bermanfaat. Tapi apakah model ini bisa lebih memudahkan guru dalam mencapai tujuan pembelajaran? Terimakasih :)
BalasHapusterimakasih sebelumnya :), dalam model pembelajaran yg saya pilih ini bisa membantu lebih mudah untuk guru dalam mencapai tujuan pembelajaran karena dalam model pembelajaran ini bisa menciptakan suasana belajar yang menyenangkan dan tidak membosankan.
HapusApa alasan Anda memilih model "robert gagne's" ini?
BalasHapusTerimakasih
alasan saya memilih model pembelajaran ini karena untuk guru bisa mengetahui Ketrampilan siswa paling rendah menjadi dasar bagi pembentukan kemampuan yang lebih tinggi dalam hierarki ketrampilan intelektual. Guru harus mengetahui kemampuan dasar yang harus disiapkan. Belajar dimulai dari hal yang paling sederhana dilanjutnkan pada yang lebih kompleks ( belajar SR, rangkaian SR, asosiasi verbal, diskriminasi, dan belajar konsep) sampai pada tipe belajar yang lebih tinggi (belajar aturan dan pemecahan masalah).
HapusMenurut anda apa kendala yg sangat menghambat untuk menggunakan model tsbt di SD khususnya mata pelajaran PKn? Trinakasih
BalasHapusmenurut saya blog ini sudah bagus dan lengkap,saya ingin bertanya bagaimana cara anda menyikapi anak dalam rancangan model ini?
BalasHapusAdakah kendala dalam pembuatan rpp pada model robert gagne's ?
BalasHapusAdakah kendala anda terhadap model Robert gagne's ketika diterapkan di kelas?
BalasHapusmengapa pada model Robert Gagnes ada tahapan Gain Attention?
BalasHapus